Jakarta – Potensi ekonomi baru di sektor kelautan bakal hadir di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, melalui rencana pembangunan kawasan tambak udang vaname raksasa. Proyek Integrated Shrimp Farming (ISF) di Pulau Pagai Selatan ini ditargetkan menyerap 8.820 tenaga kerja lokal dengan nilai investasi jumbo mencapai Rp7,2 triliun.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, memastikan rencana strategis ini telah mengantongi restu dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI. Pemerintah pusat menilai wilayah tersebut memiliki keunggulan topografi yang sangat mendukung produktivitas budidaya skala industri.
“Kita melihat ini sebagai peluang besar yang harus kita jemput bersama. Karena itu, kita langsung menyampaikan usulan pengembangan kawasan tambak udang terintegrasi di Mentawai kepada Menteri KKP dan Alhamdulillah mendapat respons yang sangat baik,” kata Mahyeldi di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Proyek yang membentang di lahan seluas 2.000 hektare ini diproyeksikan mampu memproduksi 52.800 ton udang setiap tahunnya. Saat ini, KKP tengah menyiapkan tim teknis untuk melakukan survei lapangan guna memvalidasi aspek lingkungan serta kesiapan infrastruktur pendukung di lokasi.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Syefdinon, menjelaskan bahwa pembangunan tambak akan mengadopsi konsep ramah lingkungan berupa eco-efficiency dan zero waste. Pihaknya menargetkan seluruh persiapan rampung dalam tiga bulan ke depan agar konstruksi fisik bisa dimulai pada 2027.
Ia juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat lokal dan tokoh adat agar manfaat ekonomi proyek ini dirasakan langsung oleh warga setempat. “Pendekatan sosial menjadi kunci. Kita ingin masyarakat menjadi bagian dari pembangunan, bukan hanya sebagai penonton,” tegas Syefdinon.
Pemilihan lokasi di Pantai Timur Pulau Pagai Selatan sendiri didasarkan pada hasil kajian Pra-Amdal Universitas Andalas. Wilayah ini dinilai sangat strategis untuk memacu pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memaksimalkan potensi perairan di kawasan kepulauan tersebut.






