Ada Instalasi Pengolahan Air, Warga Jakarta Bisa Minum Langsung dari Keran

oleh -445 Dilihat

Jakarta – Perumda PAM Jaya tengah membangun dua instalasi pengolahan air (IPA), yakni IPA Pesanggrahan dan IPA Ciliwung.

Jika telah beroperasi, air perpipaan yang didistribusikan dari kedua IPA ini diklaim dapat langsung diminum dari keran rumah warga.

Direktur Pelayanan PAM Jaya Syahrul Hasan mengatakan, proyek ini bagian dari upaya meningkatkan cakupan layanan air bersih di Jakarta, yang saat ini telah mencapai 70,29 persen.

“Proposal kita adalah tap water. Jadi, khusus IPA Pesanggrahan dan IPA Ciliwung, airnya bisa langsung diminum oleh warga Jakarta karena selain IPA-nya baru, jaringannya juga disiapkan baru dan food grade,” ucap Syahrul kepada wartawan di Balai Kota Jakarta, Rabu (12/2/2025).

Untuk IPA Pesanggrahan dibangun di Jalan Cirendeu Permai Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

IPA ini memiliki kapasitas produksi 750 liter per detik dan ditargetkan melayani 45.000 sambungan rumah.

Area layanan awal mencakup Kecamatan Pesanggrahan, terutama Kelurahan Bintaro, dengan target operasional mulai September 2025.

“IPA Pesanggrahan akan banyak dirasakan oleh warga Jakarta, khususnya yang bersebelahan atau yang berdampingan dengan Tangerang,” ujar Syahrul.

Sementara itu, IPA Ciliwung yang berlokasi di Kecamatan Pasar Minggu akan memproduksi 200 liter per detik dan melayani 15.000 sambungan rumah.

Area yang akan menerima manfaat meliputi Jati Padang, Pejaten Barat, Kebagusan, Duren Tiga, Pengadegan, Rawa Jati, serta wilayah sekitar Jalan Raya Pasar Minggu hingga Pancoran dan Kalibata.

Meski Sungai Ciliwung dikenal memiliki kualitas air baku yang kurang ideal, Syahrul memastikan bahwa air yang dihasilkan dari instalasi ini tetap layak minum.

“Kondisi Sungai Ciliwung yang kita tahu semua keadaannya, mungkin orang melihatnya agak malas, warnanya coklat, apa iya bisa nanti diminum? Ini proposalnya bisa diminum,” kata dia.

Saat ini, progres pembangunan IPA Ciliwung baru mencapai 2,25 persen sejak groundbreaking pada akhir 2024.

Syahrul mengakui bahwa tantangan utama dalam proyek ini adalah mengubah kebiasaan masyarakat yang masih mengandalkan air tanah.

“Wilayah IPA Ciliwung, maupun wilayah IPA Pesanggrahan, di mana pemakaian air tanahnya ini masih dominan,” kata Syahrul.