Padang – Sekelompok wisatawan asal Hongkong antusias mempelajari budaya Minangkabau di Galeri Permata Hati, Sabtu (27/12). Mereka belajar membuat deta dan tingkuluak, serta memainkan alat musik tradisional seperti bansi dan saluang.
Kunjungan ini disambut hangat oleh pemilik Galeri Permata Hati Grup, Welly Nofi Sastera. Ia menyediakan fasilitas belajar sesuai dengan minat para wisatawan.
“Alhamdulillah, apa yang mereka inginkan bisa kami sediakan,” ujar Welly.
Awalnya, beberapa wisatawan juga tertarik belajar tari tradisional Minangkabau. Namun, karena keterbatasan waktu, mereka fokus pada pembuatan deta, tingkuluak, dan bermain musik.
Welly menjelaskan, galerinya terbuka bagi wisatawan lokal maupun internasional yang ingin belajar tentang budaya Minangkabau.
“Kami bergerak di bidang kriya, musik, kuliner, dan literasi. Jadi, kami siap memenuhi kebutuhan mereka,” katanya.
Selama proses belajar, wisatawan dibagi menjadi dua kelompok. Eni Emilia, staf Galeri Permata Hati, mengajari pembuatan deta dan tingkuluak. Sementara itu, Irwandi, alumni Fakultas Sastra Universitas Andalas, melatih bermain musik tradisional.
“Sulit belajar saluang. Menyesuaikan bibir dengan saluang saja sudah sangat sulit,” kata Iven Wong, salah seorang peserta yang belajar musik.
Tang Chang Yan, koordinator tim Hongkong yang telah lama tinggal di Indonesia, mengatakan bahwa kunjungan ini telah direncanakan jauh hari.
“Prinsipnya, mereka menyukai semua yang berbau kebudayaan Minangkabau,” ujarnya.
Karena waktu belajar yang terbatas, para wisatawan hanya mendapatkan pengenalan dasar. Mereka kemudian memanfaatkan waktu untuk berfoto dan membeli oleh-oleh khas Minangkabau di Galeri Permata Hati Grup.
“Memang tidak mudah belajar budaya dan musik Minang. Tapi alhamdulillah, mereka sudah berkunjung dan mau belajar, bahkan membeli oleh-oleh,” pungkas Welly.






