Ridwan Tulus Kembangkan Green Tourism, Dunia Apresiasi

oleh -172 Dilihat
jejak-jejak-tulus;-green-tourism-ala-ridwan-tulus,-tour-designer-dan-sotopreunership-(social-tourism)-diapresiasi-dunia!
Jejak-jejak Tulus; Green Tourism ala Ridwan Tulus, Tour Designer dan Sotopreunership (Social Tourism) Diapresiasi Dunia!

Padang – Ridwan Tulus, seorang tokoh yang dikenal dengan ide-ide inovatif di bidang pariwisata, terus menginspirasi dan memberikan solusi bagi permasalahan global, khususnya di sektor pariwisata.

Di awal tahun 2020, saat pandemi COVID-19 melanda dunia dan melumpuhkan industri pariwisata, Ridwan Tulus justru telah membagikan gagasannya tentang destinasi wisata yang menyehatkan melalui konsep Forest Healing dan Oceanic Healing, bahkan lima bulan sebelum pandemi merebak. Hal ini diungkapkan di hadapan para master dan guru besar Sekolah Tinggi Ilmu Hayati – Institut Teknologi Bandung (ITB).

Mulyandri Ramadhan Bachtiar, CEO Malala Tours dan Sekjen Green Tourism Institute, mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, saat memulai usaha di bidang pariwisata, ia mencari masukan dan berbagi pemikiran dengan Ridwan Tulus. “Orang eksentrik inilah yang saya temui,” ujarnya.

Bachtiar menambahkan bahwa ia pernah mendata lebih dari seribu perusahaan biro perjalanan wisata dari berbagai provinsi di Indonesia dan menemukan kecenderungan kesamaan program atau “copy paste” dalam istilah IT. “Tidak ada kreativitas, sehingga bingung menentukan siapa yang harus dipelajari karena tidak jelas siapa yang memulai program tersebut, takut belajar bukan dari sumber yang tepat,” katanya.

Bachtiar menyadari bahwa dunia pariwisata memiliki banyak variasi karena setiap orang memiliki minat yang berbeda. Perbedaan inilah yang kemudian mengarah pada program Sumatra and Beyond. “Warna-warni pelangi yang saya sukai terlihat di sini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Bachtiar menjelaskan bahwa ia tidak hanya menemukan warna, tetapi juga cara memandang warna yang unik, yang menghasilkan kombinasi warna yang mengagumkan. Ia juga selalu mengingat motivasi dari Ridwan Tulus untuk berusaha dan berkarya dengan rasa syukur dan apa adanya. “Tanpa modal dan ijazahpun BISA! kalau ingin berwiraswasta,” ujarnya menirukan ucapan Ridwan Tulus.

Menurutnya, untuk meraih biaya, diperlukan kreativitas, ilmu, kemauan, dan keberanian. “If you want to be seen by any people, you must be red in a plenty of white,” imbuhnya, mengutip sebuah ungkapan yang membantunya menemukan warna sendiri, karakter, dan eksistensi.

Ridwan Tulus juga menekankan bahwa “Seorang Tour Operator Yang Hebat adalah Sutradara Yang Handal.” Hal ini tidak hanya berlaku bagi tour operator, tetapi juga bagi wiraswastawan, untuk memulai dan menentukan warna sendiri.

Bachtiar menambahkan bahwa ketika Ridwan Tulus dikenal sebagai salah seorang pelopor Paperless Office di Indonesia, hal itu tidak lain karena kekurangan biaya untuk membeli kertas. Ketika program terkendala dengan akses masuk suatu tempat wisata atau akomodasi, hal itu ditutupi dengan ide sederhana yang menarik dan intuitif.

Semua hal di atas dilengkapi dengan sudut pandang instingtif dan irasional ketika Ridwan Tulus memodifikasi falsafah Minangkabau: “Alam Takambang Jadi Kantua,” yang sudah didengungkan sejak tahun 2000-an.

Salah satu warna dalam dunia pariwisata adalah social tourism, yang pertama kali disebutkan oleh ILO pada tahun 1948. Ridwan Tulus mengembangkan dan memodifikasi social tourism ini pada tahun 2002 dengan memberikan pancingan pada orang yang berpendapatan lebih untuk berbuat, bukan hanya untuk kemanusiaan, tetapi juga bagi lingkungan.

Melalui social tourism ini, Ridwan Tulus mengembangkan Social Tourism Entrepreneurship yang diringkas menjadi SOTOPRENEURSHIP. Ini merupakan ajakan berusaha dan berkarya dengan saling berbagi dan membantu sesama tanpa merendahkan yang dibantu dan berbasiskan masyarakat serta lingkungan.

Bachtiar, yang kemudian bergabung dan membantu Ridwan Tulus, menilai bahwa konsep social tourism ini akan mengembangkan pengusaha-pengusaha dan program-program SOTOPRENEURSHIP yang menjadi panutan bagi masyarakat banyak.

Pada tahun 2021, ide dan pemikiran Ridwan Tulus diapresiasi oleh para ahli, organisasi dunia, serta universitas ternama. Gagasan beliau tentang Social Tourism ditulis oleh Naoki Fujimoto dari Ritsumeikan University – Jepang dalam tesisnya. Selain itu, Ridwan Tulus juga membuka kantor perwakilan www.sumatraandbeyond.co di Belanda dan diangkat sebagai Presiden International Green Tour Operator (IGTO) untuk Belanda.

Selama tahun 2021, Ridwan Tulus juga diundang sebagai pembicara dalam berbagai acara, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang membahas tentang green tourism, social tourism, dan kewirausahaan sosial. Ia juga mendapat penghargaan dari Enterprise Risk Management Academy – Singapura atas ide beliau tentang Social Tourism.

Pada 13 Desember 2021, Ridwan Tulus diundang sebagai pembicara dalam program S3 Pariwisata Universitas Trisakti – Jakarta dengan materi “Green Tourism; Solusi Pariwisata Dunia!”.

“Itulah sekelumit tentang ‘Jejak – jejak Tulus di tahun 2021’ yang walaupun dalam keadaan sulit dan kekurangan beliau masih tetap berusaha berbuat untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik,” demikian pernyataan yang disampaikan mengenai perjalanan Ridwan Tulus.

Diharapkan visi dan misi Ridwan Tulus dalam mewujudkan Indonesia sebagai Green Tourism Destination dapat terwujud sesuai dengan motto GTI “World’s Solution!”.