Mahyeldi Peringatkan Degradasi Moral Pemuda Minangkabau

oleh -29 Dilihat
batagak-pangulu-di-bukittinggi,-mahyeldi-ingatkan-ancaman-degradasi-moral-generasi-muda-minangkabau
Batagak Pangulu di Bukittinggi, Mahyeldi Ingatkan Ancaman Degradasi Moral Generasi Muda Minangkabau

Bukittinggi – Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan, panghulu bukan hanya pemegang gelar adat, melainkan sosok yang memikul tanggung jawab besar untuk menjaga marwah nagari dan membina generasi muda Minangkabau di tengah perubahan sosial yang cepat.

Penegasan itu ia sampaikan saat menghadiri Batagak Pangulu Zulhamdi Nova Candra IB, A.Md, yang resmi menyandang gelar Datuak Nagari Labiah di Nagari Guguak Panjang, Kota Bukittinggi, Minggu (17/5/2026).

Mahyeldi mengatakan, seorang panghulu harus menjadi figur yang dipercaya kaum dan masyarakat. Ia menilai gelar datuak tidak bisa disandang sembarang orang karena melekat dengan amanah terhadap anak kemenakan serta kehidupan sosial di nagari.

“Pangulu ditunjuak urang nan dipicayo, gala tibo di urang nan bana. Artinya, penghulu adalah orang yang dipercaya dan gelar itu diberikan kepada orang yang memang layak,” kata Mahyeldi.

Menurut Mahyeldi, tantangan yang dihadapi niniak mamak dan pemimpin adat saat ini jauh lebih berat dibanding sebelumnya. Panghulu, kata dia, harus hadir sebagai benteng bagi generasi muda dari berbagai perilaku menyimpang yang dapat mengancam masa depan nagari.

“Generasi muda harus dijaga dan dilindungi dari hal-hal negatif serta perilaku menyimpang. Panghulu bersama niniak mamak punya tanggung jawab membina dan menyosialisasikan nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, serta adat salingka nagari,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ancaman merosotnya moral generasi muda yang dipengaruhi lemahnya pemahaman agama dan adat, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, serta dampak negatif perkembangan teknologi.

“Saat ini moral generasi muda mengalami degradasi yang tinggi. Kalau generasi mudanya hancur, maka hancurlah suatu nagari,” tegasnya.

Mahyeldi menambahkan, persoalan itu tidak bisa dibebankan kepada panghulu semata. Menurut dia, semua unsur masyarakat harus bergerak bersama, mulai dari pemerintah daerah, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, hingga bundo kanduang, agar nilai adat Minangkabau tetap terjaga.

“Jangan jadikan perbedaan peran sebagai sumber kelemahan yang memecah belah kita. Jadikan itu sebagai kekuatan bersama untuk membangun nagari,” katanya.

Ia berharap pengangkatan Zulhamdi Nova Candra sebagai Datuak Nagari Labiah dapat memperkuat nilai-nilai adat dan filosofi ABS-SBK di Bukittinggi, khususnya di Kurai Limo Jorong, agar tetap hidup dan terpelihara ke depan.

Dalam kesempatan itu, Mahyeldi juga menyampaikan selamat kepada Zulhamdi Nova Candra IB, A.Md, yang kini mengemban amanah sebagai panghulu suku Jambak. Ia berharap gelar adat itu dijalankan dengan penuh tanggung jawab demi menjaga marwah kaum dan nagari.

Sementara itu, Zulhamdi Nova Candra Datuak Nagari Labiah menyatakan siap menjalankan pesan dan arahan yang disampaikan Gubernur Sumbar. Ia menegaskan komitmennya bersama niniak mamak di Kurai Limo Jorong untuk menjaga adat dan memperkuat pembinaan terhadap anak kemenakan.

“Insya Allah apa yang disampaikan Pak Gubernur menjadi cita-cita kami di nagari. Apa yang dilakukan nantinya adalah untuk anak kemenakan dan untuk nagari kita bersama,” ujarnya.