Festival Pamenan Minangkabau #2: Lestarikan Budaya, Berdayakan Perempuan

oleh -172 Dilihat
festival-pamenan-minangkabau-#2:-ruang-perempuan,-budaya-dan-masa-depan-di-rumah-gadang
Festival Pamenan Minangkabau #2: Ruang Perempuan, Budaya dan Masa Depan di Rumah Gadang

Padang Panjang – Festival Pamenan Minangkabau #2 resmi dibuka pada Sabtu, 26 Juli 2025, di Rumah Gadang Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM), ditandai dengan tabuhan gendang. Acara ini diharapkan dapat memperkuat posisi Padang Panjang sebagai kota budaya yang berakar pada tradisi Minangkabau.

Hendri Arnis, dalam sambutannya, menekankan pentingnya PDIKM sebagai pusat kegiatan budaya yang didukung oleh revitalisasi berkelanjutan. “Rumah Gadang bukan sekadar bangunan, tapi ruang hidup, dialog, dan ekspresi. Kami ingin kegiatan seperti ini menjadi bagian dari ekosistem budaya Padang Panjang,” ujarnya.

Festival yang berlangsung hingga Minggu, 27 Juli 2025, menampilkan lebih dari 20 kelompok seni dan permainan tradisional. Tahun ini, festival menyoroti peran perempuan Minangkabau sebagai penjaga nilai, penggerak kebudayaan, dan pencipta seni, dengan tema “Padusi di Rumah Gadang”.

Afrizal Harun, Direktur Festival, menjelaskan bahwa acara ini selaras dengan tiga dimensi budaya Minangkabau: bahasa (pamenan kato), visual (pamenan mato), dan auditif (pamenan talingo). Festival ini didukung oleh Dana Indonesiana-LPDP, Kementerian Kebudayaan, dan Pemerintah Kota Padang Panjang.

Pembukaan festival dimeriahkan dengan penampilan puisi naratif “Padusi di Rumah Gadang” oleh Kurniasi Zaitun, tarian Minangkabau, pertunjukan seni, dan peragaan busana tradisional oleh Qytara Handycraft. Kelompok seni lokal seperti Komunitas Paninjauan Saiyo, Seni Pituah Aguang, Terkenal Ensemble dan Combo Band Diafora, serta Marakik Aso turut memeriahkan acara.

Salah satu sorotan adalah peragaan busana “Bergaya dalam Basah” oleh Desra Imelda dari Qytara Handycraft. Desra Imelda menjelaskan bahwa inspirasi karyanya datang dari curah hujan yang tinggi di Padang Panjang. “Kota Padang Panjang, yang kerap dijuluki sebagai ‘Kota Hujan’, menjadi sumber inspirasi utama. Hujan di sini bukan gangguan, tapi bagian dari keseharian yang memantik gagasan,” katanya. Desainnya menggabungkan berbagai gaya busana untuk menciptakan jas hujan yang fungsional, modis, dan estetik.

Festival ini didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata, dan Dinas Perpustakaan dan Pengarsipan Kota Padang Panjang. Afrizal Harun menambahkan, “Festival ini menjadi penanda kuat bahwa di tengah arus modernisasi, Padang Panjang tetap berdiri kokoh sebagai kota budaya, tempat perempuan dan pemuda diberi ruang untuk bicara melalui karya dan tradisi.”

Pembukaan festival juga ditandai dengan dentuman empat mariam batuang, disaksikan oleh ribuan penonton. Rombongan kemudian mengunjungi ruang pamer arsip seni pertunjukan dan sejarah teater di Sumatera Barat.