Bukittinggi – Menara Jam Gadang di jantung Kota Bukittinggi berpeluang tampil dengan wajah baru tanpa meninggalkan bentuk aslinya. Seorang cendekiawan Muslim asal Tiongkok, Prof. Adj. Yusuf Liu Baojan, mengusulkan agar ikon Sumatera Barat itu dihiasi aksara Jawi atau Arab-Melayu.
Usulan tersebut disampaikan kepada Pemerintah Kota Bukittinggi sebagai upaya memperkuat identitas religius Ranah Minang sekaligus menambah nilai estetika kawasan. Dalam proposalnya, aksara Jawi diharapkan hadir bukan sekadar sebagai ornamen, tetapi juga sebagai penanda warisan Islam yang melekat kuat di Sumatera Barat.
Dalam siaran pers pada 12 Juni 2026, Yusuf Liu menyebut nama “Jam Gadang” dapat dituliskan berdampingan dengan falsafah Minangkabau, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” dalam bentuk kaligrafi Jawi. Menurut dia, sentuhan itu selaras dengan bahasa lokal kuno dan nilai-nilai tradisional.
Ia menilai, penempatan aksara Jawi di landmark ikonik tersebut akan menjaga karakter sejarah bangunan era kolonial tanpa mengubah arsitekturnya. Di sisi lain, langkah itu juga dinilai bisa mempertegas kehadiran peradaban Islam yang lama berkembang di daerah itu.
Integrasi aksara Jawi turut dimaknai sebagai jembatan sejarah yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Selama berabad-abad, Arab-Melayu menjadi sarana penting dalam sastra, diplomasi, perdagangan, dan penyebaran ilmu di Nusantara sebelum huruf Latin digunakan secara luas.
Dengan hadir kembali di ruang publik, Jam Gadang diproyeksikan bukan hanya sebagai tujuan wisata bernuansa spiritual, tetapi juga sebagai daya tarik baru bagi wisatawan internasional. Diaspora Melayu dan wisatawan dari Timur Tengah disebut menjadi kelompok yang berpotensi tertarik pada jejak budaya tersebut.
Gagasan itu muncul saat Yusuf Liu menggelar pameran tunggal kaligrafi pada Festival Literasi Minang Internasional ke-4 (IMFL-4) yang berlangsung di Bukittinggi pada 3-7 Juni 2026. Dalam rangkaian acara itu, ia juga tampil sebagai pembicara utama pada Seminar Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 5 Juni 2026.
Selama berada di Bukittinggi, Yusuf Liu didampingi Dr. Irwandi selaku Kepala Pusat Hubungan Internasional UIN Bukittinggi, Dr. Albert Nashir dari Universitas Deztron Indonesia, serta Ali Rahman, MH, Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Bukittinggi. Mereka ikut menilai potensi gagasan itu terhadap ekosistem ekonomi kreatif lokal.
Untuk menunjukkan keseriusan usulannya, Yusuf Liu juga telah menyiapkan sketsa desain kaligrafi khusus sebagai rancangan awal bagi pemerintah daerah. Ia berharap gagasan itu memicu diskusi lebih lanjut di kalangan pengambil kebijakan dan perangkat daerah terkait di Bukittinggi.
Jika terwujud, Jam Gadang tak lagi sekadar menjadi penanda waktu. Monumen itu dinilai bisa berubah menjadi simbol hidup yang menampilkan harmoni tradisi, budaya, dan nilai ketuhanan ke panggung dunia.






