DPR Ajak Jaga Kepercayaan Pasar Saat Rupiah Tertekan

oleh -27 Dilihat
dpr-soroti-pentingnya-jaga-kepercayaan-pasar-di-tengah-tekanan-rupiah
DPR Soroti Pentingnya Jaga Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Kholid menilai stabilitas rupiah di tengah tekanan pasar global tak cukup dijaga dengan kebijakan moneter semata. Menurut dia, pemerintah dan otoritas ekonomi juga harus memperkuat komunikasi publik agar kepercayaan pasar tetap terjaga.

Kholid mengatakan, pasar keuangan saat ini sangat dipengaruhi persepsi dan sentimen terhadap arah kebijakan pemerintah. Karena itu, ia meminta pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan otoritas fiskal menjaga koordinasi komunikasi secara konsisten agar tidak memicu kekhawatiran berlebihan di kalangan investor maupun pelaku industri keuangan.

“Perlu ada strategic management, ekspektasi. Bagaimana mengelola ekspektasi itu strategic. Jadi bukan hanya kebijakan teknis modern, tapi manajemen ekspektasinya harus diperkuat,” kata Kholid dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Politikus Fraksi PKS itu menjelaskan, cara investor membaca kondisi ekonomi global kini berubah. Jika sebelumnya pasar lebih banyak bertumpu pada data historis, kini investor cenderung menghitung risiko ekonomi ke depan sebelum mengambil keputusan.

Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat pasar tidak hanya bereaksi terhadap data ekonomi hari ini, tetapi juga memproyeksikan potensi tekanan yang mungkin muncul di masa mendatang. Kholid mengaitkan situasi itu dengan teori rational expectation yang diperkenalkan ekonom Robert Lucas.

Dia menyebut pelaku pasar, investor, hedge fund, hingga industri keuangan kini lebih mengedepankan pendekatan futuristik dalam menentukan strategi investasi.

“Bahwa pelaku pasar, investor, hedge fund, industri, mereka itu membuat pricing yang rational. Bukan data kemarin, bukan data hari ini, tapi pricing futurist,” ujarnya.

Menurut Kholid, tantangan pemerintah saat ini bukan hanya menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil, melainkan juga memastikan publik tidak melihat gejolak ekonomi sebagai tanda menuju krisis seperti 1998. Ia menilai trauma terhadap krisis moneter masih memengaruhi persepsi masyarakat dan pelaku pasar.

Karena itu, ia meminta seluruh otoritas ekonomi tampil solid dan konsisten dalam menyampaikan kebijakan agar pasar menerima sinyal yang jelas mengenai kondisi ekonomi nasional.

“Message-nya harus loud and clear, harus konsisten. Jadi kalau otoritas itu kompak, otoritas moneter, industri jasa keuangan, kementerian keuangan, dan tetap diikuti dengan tindakan policy yang konsisten, itu memberikan signal bahwasannya hari ini itu berbeda dengan 98,” pungkasnya.