Padang — Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Pemerhati Penyiaran dan Digital asal Padang, Ikhwan, menyoroti pentingnya menjadikan momen ini tak hanya sebagai refleksi untuk dunia pendidikan formal, namun juga sebagai titik evaluasi terhadap perkembangan dan pengaruh dunia penyiaran terhadap masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurut Ikhwan, penyiaran dewasa ini memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter masyarakat dan generasi penerus bangsa.
Ia menilai, ruang-ruang penyiaran—baik yang berbasis televisi, radio, hingga media sosial—telah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran publik.
“Pendidikan itu tak lagi hanya berbasis sekolah atau ruang kelas. Penyiaran adalah sarana pendidikan informal yang sangat kuat pengaruhnya. Karena itu, Hardiknas harus kita maknai lebih luas, termasuk pada aspek penyiaran dan digital,” kata Ikhwan di Padang, Jumat (2/5/2025).
Ia menjelaskan bahwa penyiaran yang sehat harus memiliki keberpihakan kepada publik.
Tayangan-tayangan yang disajikan tidak sekadar menghibur atau mengikuti tren pasar, namun juga perlu mendidik, membangun empati, dan relevan terhadap kebutuhan masyarakat.
“Penyiaran yang baik adalah yang mampu menyentuh sisi psikologis masyarakat tanpa merusak nalar dan etika publik. Karena dampaknya bukan hanya sesaat, tetapi berjangka panjang,” ujarnya.
Ikhwan juga menekankan bahwa generasi muda sangat rentan terhadap pengaruh tayangan dan konten digital. Ia menyebut, banyak kasus perilaku menyimpang, kekerasan verbal, hingga kecemasan sosial yang timbul akibat paparan konten yang tidak terfilter dengan baik.
“Sekarang anak-anak kita lebih banyak menyerap nilai dari layar ponsel dibanding guru atau orang tua. Maka, isi layar itu penting untuk dikawal. Karena di sanalah mereka belajar, meniru, bahkan membentuk kepribadian,” katanya.
Ia menggarisbawahi bahwa ekosistem penyiaran hari ini tidak lagi hanya didominasi oleh televisi dan media arus utama, tetapi sudah berkembang ke media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya.
Hal ini, lanjutnya, membuat tantangan pengawasan dan regulasi menjadi jauh lebih kompleks.
“Penyiaran hari ini tak lagi linear. Konten bisa muncul dari siapa saja, kapan saja, dan menyebar secara masif tanpa melalui sensor. Itu sebabnya, kita butuh pendekatan baru dalam regulasi dan pengawasan,” jelasnya.
Menurutnya, lembaga-lembaga seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Kementerian Komunikasi dan Informatika, hingga Badan Siber dan Sandi Negara harus memperluas domain pengawasannya, termasuk melibatkan platform digital asing yang beroperasi di Indonesia.
Ia juga mengusulkan adanya kurikulum literasi media yang lebih serius di tingkat sekolah.
“Anak-anak harus diajarkan untuk menjadi konsumen media yang cerdas sejak dini. Ini penting untuk membentengi mereka dari konten-konten yang tidak sehat,”katanya.
Di sisi lain, Ikhwan menyoroti minimnya keterlibatan daerah dalam mengawal kualitas konten lokal.
Dia menilai, pemerintah daerah belum optimal mendorong produksi tayangan edukatif yang menggambarkan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya Sumatera Barat.
“Konten lokal Sumbar harusnya bisa jadi benteng identitas dan sarana pendidikan karakter. Tapi saat ini, konten lokal justru tenggelam oleh dominasi konten viral yang tak jarang jauh dari nilai-nilai budaya kita,” ujarnya.
Ikhwan berharap, Hardiknas tahun ini menjadi momentum untuk memperluas cakrawala berpikir tentang pendidikan.
Ia mengajak semua pihak, mulai dari pendidik, pemerintah, pegiat media, hingga orang tua, untuk bersama-sama menciptakan lingkungan penyiaran yang sehat, aman, dan mencerdaskan.
“Pendidikan bukan hanya tentang mengajar dan belajar di kelas. Apa yang anak-anak tonton, dengar, dan konsumsi setiap hari juga bagian dari pendidikan itu sendiri. Jika ingin masa depan bangsa sehat, maka penyiarannya pun harus sehat,” tegasnya.






