Tanah Datar – Pemulihan ekonomi warga di perbatasan Kabupaten Tanah Datar dan Sijunjung kini mulai menunjukkan titik terang. Akses transportasi di Ruas Jalan Sitangkai-Tanjung Ampalu kembali normal setelah Jembatan Bailey resmi difungsikan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Jembatan darurat ini menjadi solusi vital bagi masyarakat yang sempat terisolasi selama satu setengah bulan akibat banjir bandang pada Mei lalu. Sebelumnya, warga terpaksa memutar sejauh 20 kilometer untuk beraktivitas.
Kepala UPTD Workshop dan Peralatan Dinas BMCKTR Sumbar, Mitra Hengki, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan ini menyerap anggaran sebesar Rp4,9 miliar dari dana Transfer ke Daerah (TKD). Langkah ini diambil sebagai upaya cepat pemerintah dalam memulihkan aksesibilitas pascabencana.
“Total anggaran pembangunan dan pemasangan Jembatan Bailey ini mencapai Rp4,9 miliar,” ujar Mitra Hengki di Tanah Datar, Selasa (28/7/2026).
Secara teknis, jembatan sepanjang 42 meter dengan lebar 4,2 meter ini memiliki ketahanan beban hingga 20 ton. Konstruksi ini diproyeksikan mampu bertahan selama bertahun-tahun, sembari menunggu proses pembangunan jembatan permanen senilai Rp25 miliar yang sedang direncanakan.
Wali Nagari Taluk, Pendi Aswil, mengakui bahwa terputusnya jalur utama sempat melumpuhkan sektor perkebunan dan UMKM di wilayahnya. Ia menyambut positif pembukaan akses ini karena dinilai sebagai kunci bangkitnya kembali roda ekonomi warga.
“Sekarang setelah Jembatan Bailey dibuka, usaha masyarakat mulai berjalan kembali dan ekonomi kembali bergerak,” ungkap Pendi.
Dampak positif tersebut juga dirasakan langsung oleh para pelaku usaha kecil di sekitar jembatan. It (60), seorang pemilik rumah makan, mengaku omzetnya mulai membaik seiring kembali ramainya kendaraan yang melintas, termasuk truk angkutan hasil bumi.
“Kami sangat terbantu karena sekarang bisa kembali menjalankan usaha,” tutur It. Kehadiran jembatan ini kini menjadi tumpuan utama bagi mobilitas warga serta arus distribusi barang di kawasan tersebut.






