Padang – Kegiatan literasi Pra International Minangkabau Literacy Festival ke-4 (IMLF-4) kembali mengangkat buku bertema Nahdlatul Ulama. Kali ini, karya Armaidi Tanjung yang berjudul Orang Minang Meliput Muktamar NU dibedah dalam forum daring pada Sabtu (2/5/2025) malam.
Buku tersebut dinilai menawarkan sudut pandang berbeda dalam merekam perhelatan Muktamar NU. Jika selama ini penulisan muktamar cenderung berpusat pada agenda resmi dan dinamika seremonial, Armaidi justru menyorot peristiwa-peristiwa kecil di luar agenda utama yang dinilai penting bagi catatan sejarah NU ke depan.
Pandangan itu mengemuka dari dua pembicara, yakni Direktur NU Online 2002-2011 H. Abdul Mun’im DZ dan Wartawan Utama/Wakil Ketua DPD Satupena Sumatera Barat Yurnaldi. Diskusi dipandu Pemred Sigi24.com Ahmad Damanhuri.
Ketua Satupena Sumbar Sastri Bakry mengatakan bedah buku tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pra IMLF-4 yang akan digelar pada 3-7 Juni 2026 di Bukittinggi. Kegiatan ini juga menjadi pra kegiatan terakhir sebelum pelaksanaan puncak IMLF-4.
“Buku ini menarik untuk didiskusikan yang dibahas oleh orang dalam dan di luar NU,” kata Sastri, yang juga Ketua IMLF-4.
Menurut Sastri, sebelum forum ini, sejumlah bedah dan diskusi buku telah lebih dulu digelar, baik secara daring maupun luring.
Abdul Mun’im menilai Armaidi Tanjung berhasil menempatkan diri sebagai bagian dari kalangan internal NU sekaligus pengamat dari luar ketika menulis pengalaman meliput muktamar. Dengan begitu, isi buku tidak hanya memuat seremoni dan agenda resmi, tetapi juga sisi lain yang jarang muncul dalam laporan umum.
“Dalam jangka panjang tulisan-tulisan seperti itu sangat penting. Terutama bagi peneliti NU dalam melihat penyelenggaraan Muktamar,” ujarnya.
Ia menambahkan, catatan semacam itu akan berguna bagi peneliti NU, termasuk mereka yang mendalami perkembangan NU di Sumatera Barat.
Sementara itu, Yurnaldi menilai buku tersebut hadir dengan pendekatan yang berbeda dari kebiasaan penulisan tentang NU yang selama ini bertumpu pada tokoh besar dan keputusan elite. Armaidi, kata dia, memilih berdiri di pinggir peristiwa.
“Buku ini tidak menawarkan analisis akademik yang rumit, juga tidak menyajikan kronik resmi organisasi. Ia adalah catatan seorang wartawan daerah-kontributor media-yang mengikuti tiga muktamar NU (Makassar 2010, Jombang 2015, Lampung 2021) dengan satu naluri sederhana: merekam apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Kesederhanaan itulah yang justru menjadi kekuatan buku ini,” kata Yurnaldi.
Di akhir bedah buku, Armaidi Tanjung mengatakan karya itu lahir dari pengalamannya sebagai kontributor NU Online dalam meliput Muktamar NU ke-32 di Makassar pada 2010, Muktamar ke-33 di Jombang pada 2015, dan Muktamar ke-34 di Lampung pada 2021. Ia juga menuliskan proses bergabung dengan NU Online, perjalanan berangkat dan pulang dari lokasi muktamar, serta pengalaman selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Sepengetahuan saya belum ada buku Muktamar NU yang ditulis orang Minang. Maka saya beranikan menulis bukunya dari pengalaman dan apa yang sudah saya tulis. Setidaknya buku ini menjadi catatan saya ketika diberikan kesempatan mengikuti tiga Muktamar NU,” tutur Armaidi.
Buku Orang Minang Meliput Muktamar NU terdiri atas 188 halaman, dengan ISBN 978-634-7390-07-3. Buku ini juga mendapat pengantar dari Dr. Achmad Mukafi Ni’am, Pemred NU Online 2015-2021. Pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp 085263749170.






