Malang – Ajang menyanyi daring berskala nasional Jiwantara Kanjuruhan 2026 Season I hadir membawa warna baru di industri hiburan Tanah Air. Kompetisi ini mengangkat album Bumi Kanjuruhan karya Vanya Wijaya sebagai sumber inspirasi utama, dengan menonjolkan unsur alam, budaya, dan spiritualitas khas Malang. Peserta dapat mengirimkan video penampilan lagu bebas mulai 1 Mei hingga 31 Mei 2026 melalui WhatsApp 081532750907.
Kompetisi ini dibuka untuk dua kelompok usia, yakni 10-15 tahun dan 16-20 tahun. Grand Final Season I dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 7 Juni 2026. Kegiatan tersebut digagas Senada Digital Records bersama GSI Records dengan format daring untuk menjangkau peserta dari berbagai daerah, bahkan luar negeri.
Album Bumi Kanjuruhan menjadi inspirasi utama penyelenggaraan lomba. Vanya Wijaya mengatakan, penghayatan lagu dilakukan lewat riset visual dan emosional terhadap lanskap Gunung Bromo, Tengger, Semeru, hingga Gunung Kawi. Menurut dia, pendalaman itu membantu membentuk karakter vokal yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki “jiwa” dalam setiap nada.
“Prosesnya seru banget! Sebelum mulai menyanyi, aku banyak baca cerita dan melihat foto-foto maupun video-video keindahan tempat-tempat tersebut. Aku mencoba merasakan seolah-olah aku sedang berdiri di puncak Semeru yang gagah atau merasakan kabut di Bromo,” ujar Vanya.
Salah satu lagu yang menjadi tantangan dalam kompetisi ini adalah Tanah Tiga Penjaga. Lagu tersebut menuntut peserta menjaga keseimbangan antara kekuatan suara dan emosi agar pesan yang dibawa bisa sampai kepada pendengar.
Vanya menjelaskan, pengaturan dinamika suara menjadi kunci dalam membawakan lagu itu. “Aku harus mengatur tenaga suaraku, kapan harus meledak semangat dan kapan harus lembut. Kalau terlalu semangat nanti jadi berisik, kalau terlalu lembut nanti pesannya nggak sampai,” katanya.
Berbeda dengan Tanah Tiga Penjaga yang penuh energi, Puisi Sunyi Gunung Kawi menghadirkan suasana yang lebih tenang dan kontemplatif. Lagu ini menuntut teknik vokal yang lebih halus, dengan pendekatan napas lembut untuk menghadirkan nuansa renungan.
“Aku lebih banyak pakai teknik napas yang halus banget, seperti orang yang sedang curhat atau merenung sendirian di tempat yang sepi,” ujar Vanya.
Dalam ajang ini, juri tidak hanya menilai kualitas teknik vokal, tetapi juga kemampuan peserta menghadirkan rasa. Vanya menegaskan, peserta harus memahami makna setiap lirik agar interpretasi yang disampaikan terasa utuh dan jujur.
Dari sisi penyelenggaraan, Denny Wijaya selaku produser, penyelenggara, sekaligus pelaksana teknis menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara visi artistik dan sistem digital. Kurasi peserta dirancang secara presisi agar kualitas audio-visual tetap terjaga meski seluruh proses berlangsung secara daring.
“Menyeimbangkan aspek kreatif dan teknis adalah tantangan sekaligus peluang. Sebagai produser, fokus saya adalah menjaga ‘ruh’ dari album Bumi Kanjuruhan agar tetap terasa dalam setiap penampilan peserta,” ungkap Denny.
Ia menambahkan, konsep Universal Access diterapkan agar peserta dari berbagai wilayah bisa ikut serta tanpa batas geografis. Teknologi, kata dia, menjadi jembatan untuk menciptakan interaksi kreatif yang tetap hangat antara peserta dan juri.
Rulli Aryanto, sebagai penulis lagu dan produser, menekankan pentingnya riset mendalam terhadap sejarah dan budaya Malang Raya. Ia menyebut, seluruh elemen itu kemudian dikemas dengan gaya modern agar lebih mudah diterima berbagai kalangan.
“Riset pasti, banyak baca tentang sejarah Malang Raya dan Kanjuruhan. Tidak semua bisa kita angkat, tapi paling tidak poin besarnya bisa disampaikan dalam enam lagu tentang budaya, kekayaan alam, tradisi, dan nilai-nilai di dalamnya,” jelas Rulli.
Ia juga menyoroti nilai gotong royong, toleransi, dan penghormatan terhadap alam yang menjadi identitas bangsa. Harapannya, para peserta dapat mengekspresikan karya secara bebas namun tetap berada dalam koridor yang tepat, sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya Indonesia.
Melalui Jiwantara Kanjuruhan 2026, musik diposisikan bukan sekadar hiburan, melainkan sarana membawa cerita lokal ke audiens yang lebih luas. Vanya menggambarkan musik sebagai “surat cinta” dari Kanjuruhan untuk dunia, yang diharapkan mampu memancing rasa ingin tahu tentang keindahan Indonesia.
Materi lagu untuk lomba menyanyi Jiwantara Kanjuruhan 2026 tersedia melalui tautan berikut: https://youtube.com/playlist?list=PLJUTfoaqTYqOuZ7_upnvZbNIw5gBO2Z0i&si=YViJjXsn6y_gGEdN.






