Padang – Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat pada penghujung tahun 2025 lalu menyebabkan kerugian lebih dari Rp 33 triliun. Ratusan orang meninggal dunia dan ribuan lainnya mengungsi akibat peristiwa tersebut.
Data dari Bappeda dan BPBD Provinsi Sumatera Barat mencatat, 264 orang meninggal dunia, 72 hilang, dan lebih dari 10.000 orang mengungsi akibat bencana yang melanda 16 kabupaten/kota.
Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak, mencapai 194 orang meninggal dan 38 orang hilang.
Disusul Kabupaten Padang Pariaman (35 orang meninggal), Kota Padang Panjang (17 orang meninggal dan 29 orang hilang), serta Kota Padang (11 orang meninggal dan 2 orang hilang).
Kerusakan infrastruktur dan terganggunya aktivitas ekonomi turut memperparah dampak bencana.
Jalur utama Padang-Bukittinggi di Lembah Anai sempat terputus total selama sembilan hari, menyebabkan kerugian transportasi mencapai Rp 21 miliar per hari.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat mencatat, inflasi di Sumatera Barat mencapai 5,15% pada Desember 2025.
Kinerja ekspor juga mengalami penurunan drastis pada November 2025 sebesar -46,79%.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat membutuhkan alokasi anggaran sekitar Rp 21,4 triliun untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.
Prioritas utama adalah memperkuat program mitigasi bencana untuk mengurangi risiko dan dampak di masa mendatang.
“Orientasi kita baru sebatas merespon, dari pada menyiapkan program-program untuk mengantisipasinya,” tulis Rudy Rinaldy dan Yosi Suryani dalam keterangan tertulisnya.
Keduanya menekankan pentingnya investasi dalam program mitigasi bencana sebagai upaya pencegahan yang lebih efektif.






