Gubernur Mahyeldi Buka FINEST 2025, Soroti Beban Neurologis Meningkat

oleh -149 Dilihat
buka-finest-2025,-gubernur-mahyeldi:-kematian-akibat-gangguan-neurologis-meningkat-18-persen-sejak-1990
Buka FINEST 2025, Gubernur Mahyeldi: Kematian Akibat Gangguan Neurologis Meningkat 18 Persen Sejak 1990

Padang – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menyoroti peningkatan prevalensi stroke di wilayahnya dibandingkan angka nasional. Hal ini diungkapkan saat pembukaan Forum Ilmiah Neurologi Sumatera (FINEST) 2025 yang berlangsung di ZHM Premiere Hotel pada Sabtu, 4 Oktober 2025.

Gubernur Mahyeldi Ansharullah menyampaikan keprihatinannya atas tingginya angka stroke di Sumbar. “Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi Stroke di Indonesia adalah 8,3 per 1.000 penduduk, sedangkan Sumatera Barat lebih tinggi yaitu 8,8 per 1.000 penduduk,” ujarnya.

Forum ilmiah yang mengusung tema “Experiences, Challenges, and New Trends in Neurology” ini diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di bidang neurologi. Mahyeldi menjelaskan bahwa gangguan neurologis mencakup gangguan pada sistem saraf, termasuk otak, sumsum tulang belakang, dan saraf. Ia menambahkan, “Di Indonesia kasus neurologis sering terjadi adalah stroke, epilepsi, penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson dan gangguan perkembangan saraf pada anak-anak.”

Data dari Global Burden Desease and Infection (GBD) Tahun 2021 menunjukkan peningkatan beban penyakit akibat gangguan neurologis sebesar 18% sejak tahun 1990. “Kondisi ini menjadikannya penyumbang utama beban penyakit secara global melebihi penyakit jantung dan pembuluh darah,” ungkap Mahyeldi.

Meskipun data spesifik gangguan neurologis di Indonesia masih terbatas, observasi di klinik dan rumah sakit menunjukkan bahwa gangguan neurologi menempati peringkat pertama daftar penyakit rawat jalan di rumah sakit. “Kalau di Indonesia, gangguan neurologis utama kita kenal dengan Stroke,” kata Mahyeldi.

Selain stroke, vertigo juga menjadi perhatian sebagai penyakit neurologi yang umum terjadi. Beban pembiayaan kesehatan akibat stroke pada tahun 2023 mencapai angka 5,2 triliun rupiah.

Mahyeldi menekankan pentingnya pencegahan gangguan neurologis sejak dini melalui pengendalian faktor risiko dan penerapan gaya hidup sehat. Ia menyarankan, “Mengendalikan faktor risiko, menerapkan gaya hidup sehat, makan bergizi seimbang, berolahraga teratur, mengelola stres, menghindari rokok dan alkohol serta memastikan keamanan diri untuk mencegah terjadinya cedera.”

Pemerintah telah mencantumkan penyakit stroke sebagai salah satu penyakit tidak menular prioritas yang dapat dikendalikan melalui deteksi dini dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan sejak pertengahan tahun 2023. Kebijakan, program, dan kegiatan pemerintah telah berkembang dalam fokus utama deteksi dini penyakit melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Kami berharap pertemuan ini dapat menjadi wadah untuk berbagi pengalaman klinis serta menggali inovasi baru untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan khususnya bidang neurologi, agar masyarakat kita terhindar dari gangguan neurologis,” harap Mahyeldi. Ia juga meminta agar kegiatan ini menjadi jembatan yang baik antara pemerintah, akademisi, klinisi, swasta, dan masyarakat.

Ketua Kolegium Neurologi Indonesia, Syahrul, menyoroti stroke sebagai penyebab kematian dan disabilitas tertinggi di dunia. “Menurut data estimasi penyakit menunjukkan 1 dari 4 orang diperkirakan terkena stroke dalam hidupnya. Dan diperkirakan setiap tiga detik ditemukan satu orang terkena stroke,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa hal ini setara dengan 12 juta orang dalam setahun akan mengalami stroke, setengah juta di antaranya meninggal dunia. “Mari kita jaga kesehatan dari sekarang, hidup sehat kalahkan stroke mulai dari diri sendiri,” ajaknya.

Syahrul juga mengharapkan dukungan pemerintah provinsi Sumbar dalam memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan stroke.