Padang – Ekonomi Sumatera Barat mencatat awal yang cukup positif pada Triwulan I 2026. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik Sumatera Barat pada 5 Mei 2026, perekonomian daerah ini tumbuh 5,02 persen secara tahunan atau year-on-year, sekaligus naik 3,15 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Capaian tersebut menunjukkan pemulihan ekonomi Sumbar terus menguat di tengah dinamika global dan proses pemulihan pascabencana. Fondasi ekonomi daerah dinilai relatif stabil dan mulai kembali bergerak setelah sempat tertekan pada akhir 2025.
Dari sisi struktur, ekonomi Sumbar masih bertumpu pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sektor ini menyumbang 22,03 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), menegaskan bahwa ekonomi daerah masih lekat dengan sektor primer dan sumber daya alam.
Meski begitu, sejumlah sektor lain kian memberi kontribusi besar. Perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, konstruksi, serta industri pengolahan ikut menjadi penopang utama pertumbuhan. Kelima sektor itu bergerak bersamaan dan memperlihatkan ekonomi daerah yang makin beragam.
Sektor perdagangan menjadi pendorong terbesar dari sisi lapangan usaha, dengan andil sekitar 1,02 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi. Kenaikan ini ditopang lonjakan konsumsi masyarakat saat Ramadhan dan Idul Fitri, disusul transaksi perdagangan elektronik yang tumbuh lebih dari 50 persen.
Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi mencatat kontribusi tertinggi, yakni 1,99 persen. Lonjakan ini berkaitan dengan meningkatnya impor barang modal hingga 143,50 persen, termasuk mesin, alat berat, dan peralatan industri.
Investasi tersebut juga sejalan dengan percepatan pembangunan infrastruktur serta rehabilitasi pascabencana yang menjadi fokus pemerintah daerah. Langkah itu diarahkan untuk memulihkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat.
Kinerja ekspor turut memberi dorongan kuat. Ekspor barang luar negeri tumbuh 19,91 persen dan menyumbang 1,94 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Komoditas utama seperti minyak sawit mentah atau CPO masih menjadi tulang punggung ekspor dengan pangsa lebih dari 80 persen.
Di sisi lain, produk kimia berbasis gambir juga mencatat lonjakan permintaan global. Kondisi ini membuka peluang yang lebih besar bagi ekspor nonmigas dari Sumbar.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi daerah, meski lajunya tergolong moderat. Momentum Ramadhan dan Idul Fitri mendorong belanja masyarakat, terutama untuk makanan, minuman, dan jasa.
Namun, konsumsi di sektor agraris masih tampak relatif stagnan. Hal itu tercermin dari indeks konsumsi petani yang hanya tumbuh tipis sekitar 0,52 persen.
Peningkatan tabungan masyarakat dan pertumbuhan kredit konsumsi juga menunjukkan kehati-hatian dalam belanja. Di saat yang sama, kondisi itu memperlihatkan masih adanya optimisme terhadap prospek ekonomi ke depan.
Dari sisi fiskal, konsumsi pemerintah ikut tumbuh berkat kenaikan belanja pegawai, termasuk pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR). Meski demikian, belanja barang dan jasa justru mengalami kontraksi cukup dalam karena efisiensi anggaran dan keterlambatan proses pengadaan pada awal tahun.
Situasi ini menegaskan bahwa peran fiskal pemerintah tetap penting dalam menggerakkan ekonomi. Tetapi, efektivitas belanja dinilai perlu dijaga agar dampaknya lebih luas dan lebih terasa di masyarakat.
Secara sektoral, hampir seluruh lapangan usaha mencatat pertumbuhan positif. Pengecualian hanya terjadi pada sektor pengadaan listrik dan gas yang terkontraksi. Adapun sektor dengan pertumbuhan tertinggi datang dari penyediaan akomodasi dan makan minum, yang melesat 17,77 persen.
Kinerja itu memberi sinyal pemulihan pada sektor pariwisata dan ekonomi berbasis jasa. Sektor jasa keuangan dan jasa lainnya juga tumbuh tinggi, menandakan diversifikasi ekonomi Sumbar mulai berkembang dan tidak lagi hanya mengandalkan sektor primer.
Dalam konteks regional, Sumatera Barat menyumbang sekitar 6,83 persen terhadap perekonomian Pulau Sumatera dan 1,51 persen terhadap perekonomian nasional. Dari sisi laju pertumbuhan, Sumbar menempati peringkat keempat di Pulau Sumatera.
Posisi tersebut menunjukkan daya saing ekonomi Sumbar cukup kuat meski kontribusinya bukan yang terbesar. Ini menjadi indikator bahwa daerah tersebut tetap mampu bersaing dalam dinamika ekonomi kawasan.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada Triwulan I 2026 menggambarkan pemulihan yang makin solid. Kenaikan investasi, kuatnya ekspor, dan membaiknya konsumsi domestik menjadi fondasi penting pertumbuhan.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diwaspadai. Ketergantungan pada komoditas ekspor tertentu seperti CPO, konsumsi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, efisiensi belanja pemerintah, serta ketimpangan antarsektor dan antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah.
Ke depan, arah pembangunan ekonomi Sumbar perlu difokuskan pada penguatan sektor hilir, diversifikasi ekonomi, dan peningkatan daya beli masyarakat. Dengan begitu, pertumbuhan yang terjadi tidak hanya tinggi, tetapi juga lebih inklusif dan berkelanjutan.






