Srikandi PKS Bergerak Senyap, Kuatkan Korban Bencana Sumbar

oleh -173 Dilihat
kuatkan-indonesia,-nevi-zuairina:-dalam-kesunyian,-srikandi-pks-hadir-di-tengah-luka-rakyat-terdampak-bencana
Kuatkan Indonesia, Nevi Zuairina: Dalam Kesunyian, Srikandi PKS Hadir di Tengah Luka Rakyat Terdampak Bencana

Padang – Anggota DPR RI Komisi VI, Nevi Zuairina, menyoroti peran penting istri-istri pejabat publik dalam membantu masyarakat Sumatera Barat yang terdampak bencana. Menurutnya, para istri pejabat publik PKS tersebut adalah “penjaga nurani negara” yang hadir di tengah masyarakat tanpa mencari sorotan.

Nevi menjelaskan bahwa aksi para perempuan ini merupakan wujud ketangguhan yang lahir dari empati. Mereka hadir di dapur umum, tenda pengungsian, lereng-lereng yang runtuh, dan rumah-rumah yang kehilangan harapan. “Mereka adalah sosok yang bergerak lebih cepat dari sirene pemerintah, karena mata seorang ibu selalu lebih peka membaca derita,” ujarnya.

Legislator Sumatera Barat II ini menegaskan bahwa istri pejabat publik tidak hanya mendukung suami, tetapi juga berdiri bersama rakyat. Ia mencontohkan Nelly Mahyeldi yang membatalkan pesta pernikahan putrinya untuk mendampingi warga yang kehilangan tempat tinggal, serta Yasmiati yang menembus jalur-jalur sulit sebelum bantuan besar tiba.

Nevi juga menyebutkan Meri Beni Warlis yang menggerakkan solidaritas dari Agam, Lian Octavia yang mempercepat suplai kebutuhan keluarga di Solok, Gusmalini yang menguatkan para ibu di Pasaman Barat, serta Melinda yang menenun harapan di Lima Puluh Kota. Semuanya bergerak tanpa menunggu komando formal.

Istri Gubernur Sumbar periode 2010-2020 ini menekankan tiga karakter yang menyatukan para perempuan tersebut, yaitu empati sebagai identitas keluarga PKS, solidaritas sebagai kebiasaan, dan kehadiran fisik sebagai bentuk kepemimpinan moral. Menurutnya, kehadiran mereka tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga keteguhan untuk bangkit kembali.

Dalam pesannya, Nevi menyampaikan bahwa bangsa ini akan selalu kuat selama perempuan-perempuan berhati besar berdiri di garis depan kemanusiaan. “Mereka adalah pendamping pejabat publik, dan mereka adalah pilar yang menjaga kehangatan hati bangsa. Dengan keteladanan mereka, Indonesia belajar bahwa kekuatan sebuah negara sering kali tumbuh dari kelembutan yang bekerja dalam diam,” tutupnya pada 17 Juni.