PT BRM Kirim Petugas dan Alat Berat ke Malalo Bersihkan Rumah dan Masjid Terdampak Galodo

oleh -180 Dilihat
pt-brm-kirim-petugas-dan-alat-berat-ke-malalo-bersihkan-63-rumah-dan-masjid-terdampak-galodo
PT BRM Kirim Petugas dan Alat Berat ke Malalo Bersihkan 63 Rumah dan Masjid Terdampak Galodo

Malalo – Bantuan terus mengalir ke wilayah Malalo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, pasca-bencana banjir bandang dan longsor yang melanda pada Jumat (28/11/2025). PT Bukit Raya Mudisa (BRM) turut mengirimkan tim dan alat berat untuk membantu membersihkan dampak kerusakan.

Fokus utama tim PT BRM adalah membersihkan 64 unit rumah dan empat masjid di Kenagarian Padang Laweh dan Guguak Malalo, yang menjadi salah satu titik terparah terdampak galodo. Baiang dan Muara Tambius juga menjadi perhatian utama dalam upaya pemulihan ini.

Abdul Hadi dari PT BRM menjelaskan bahwa timnya bekerja sama dengan petugas gabungan dan relawan untuk membersihkan rumah-rumah yang dipenuhi material akibat banjir bandang. “Untuk mempermudah proses pembersihan rumah, kita gunakan alat semprot air. Sejauh ini hasilnya cukup memuaskan karena materi yang menumpuk bisa diurai dengan menggunakan alat ini,” ujarnya.

Selain itu, alat berat juga dikerahkan untuk membersihkan jalan utama, dengan harapan mempercepat pemulihan arus lalu lintas dan aktivitas masyarakat. Hal ini juga diharapkan dapat mempermudah proses penyaluran bantuan ke tiga jurong yang terdampak.

“Kita bersama petugas Kepolisian dan TNI serta relawan akan terus bergotong royong untuk membenahi tiga jurong ini. Karena bisa dilihat sendiri, kondisinya memang mengkhawatirkan. Semoga bantuan ini bermanfaat dan bisa bantu meringankan beban yang kini dialami saudara kita di sini,” kata Abdul Hadi.

Yuharni, seorang warga Jurong Padang Laweh, Kanagarian Malalo, mengungkapkan kesedihannya atas kondisi rumahnya yang hancur akibat galodo. “Sejak tahun 1958, sudah delapan kali daerah kami dihantam Galodo. Tapi kali ini yang paling parah,” tuturnya pada Kamis (4/12/2025).

Bencana tersebut menyebabkan jalan utama terputus, jembatan utama bobol, dan aliran listrik padam. Rumah-rumah warga dipenuhi tanah, kayu, dan batu, bahkan sebagian rumah hanyut ke Danau Singkarak.

Supriyatno, tetangga Yuharni, menambahkan bahwa kejadian itu terjadi secara tiba-tiba saat masyarakat hendak melaksanakan Salat Jumat. Rumahnya sendiri lenyap akibat bencana tersebut.

“Sebenarnya, Galodo sudah terjadi pada hari Selasa (24/11/2025) sebelumnya. Karena kami sudah beberapa kali mengalami, warga langsung mengungsi. Sehingga ketika Galodo besar terjadi pada hari Jumat, tidak ada lagi warga yang berada di rumah,” jelas Yuharni.

Data menunjukkan bahwa galodo menghantam tiga jurong, yaitu Padang Laweh, Guguak Malalo, dan Muara Tambius. Kerusakan terparah terjadi di Muara Tambius, yang berada di tepi aliran anak sungai yang bermuara ke Danau Singkarak.

Suprayitno menjelaskan bahwa galodo kali ini berbeda karena berasal dari aliran air bercampur tanah, batu, dan kayu yang baru, akibat guguran bukit. Aliran ini meluluhlantakkan lahan perkebunan sebelum menghantam pemukiman warga.

Yuharni berharap proses perbaikan, terutama pembersihan rumah-rumah warga, dapat berjalan cepat agar mereka dapat kembali ke rumah masing-masing. “Rumah kami sudah tidak bisa dihuni lagi karena tanah dan batu sudah penuh semua. Ini yang paling kami butuhkan sekarang. Jadi kalau bisa kami sudah bisa kembali lagi ke rumah. Nanti perbaikan lain bisa menyusul,” harapnya.