Teheran – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kini telah bertransformasi dari perang proksi menjadi konfrontasi langsung. Situasi ini dipandang sebagai keniscayaan sejarah yang menempatkan Iran sebagai simbol perlawanan global terhadap dominasi AS dan Israel.
Bagi para pendukungnya, Iran merepresentasikan harga diri “kaum mustadaafin” yang berani menantang standar ganda Washington. Konflik ini melampaui sekadar urusan menang atau kalah di medan tempur, melainkan menjadi simbol perlawanan terhadap hegemoni yang dianggap mencekik negara-negara berkembang melalui agresi militer dan sanksi ekonomi.
Di balik eskalasi geopolitik tersebut, dunia ketiga menghadapi realitas kemiskinan yang kian memprihatinkan. Data World Bank per September 2025 mencatat sebanyak 808 juta jiwa di seluruh dunia hidup dalam kemiskinan ekstrem, dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah konflik.
Sub-Sahara Afrika menjadi kawasan dengan beban terberat, di mana sekitar 46% populasinya hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem. Kondisi ini diperparah dengan penetapan standar kemiskinan internasional baru sebesar US$ 3,00 atau sekitar Rp47.000 per hari.
Penyesuaian standar tersebut memicu lonjakan statistik penduduk miskin di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Kesenjangan ekonomi global ini kemudian dimanfaatkan Iran sebagai bahan bakar ideologis untuk memosisikan diri sebagai pembela kelompok yang terpinggirkan oleh sistem ekonomi Barat.
Saat ini, konflik tersebut telah membelah Timur Tengah ke dalam dua kubu besar. Iran terus memperkuat jaringan “Poros Perlawanan”, sementara AS memperkokoh aliansi strategisnya. Bagi negara-negara dunia ketiga, dinamika ini menjadi ujian nyata bagi tatanan dunia yang dianggap sudah usang.






