Padang – Kearifan lokal masyarakat Minangkabau terbukti efektif dalam mengurangi risiko bencana ekologis seperti galodo (banjir bandang) dan longsor di Sumatera Barat.
Namun, implementasinya dalam kebijakan publik masih minim.
Hal ini terungkap dalam kajian yang menekankan pentingnya mengintegrasikan pengetahuan tradisional ke dalam sistem kebencanaan formal.
Penelitian menunjukkan, masyarakat secara tradisional telah mengembangkan berbagai strategi adaptasi.
Mulai dari pola permukiman yang menjauhi sungai, pemanfaatan rumah gadang yang lentur, hingga sistem peringatan dini berbasis observasi alam.
“Kearifan lokal berfungsi sebagai early warning system sosial–ekologis yang tidak bergantung pada infrastruktur mahal,” tulis Muhayatul, Mahasiswa Doktoral Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang.
Praktik seperti mancari rumah dunsanak (mencari rumah saudara) dan penyebaran informasi melalui tambo (lapau, masjid, komunikasi lisan) juga menjadi mekanisme evakuasi yang efektif.
Sayangnya, kebijakan pasca-bencana seringkali mengabaikan kearifan lokal.
Kebijakan cenderung mengedepankan relokasi massal dan sistem peringatan berbasis teknologi yang kurang terhubung dengan kanal komunikasi lokal.
Akibatnya, modal sosial yang menjadi sumber ketahanan justru melemah.
Untuk itu, revitalisasi kearifan lokal menjadi elemen strategis dalam mitigasi dan adaptasi bencana.
Perubahan konstruksi rumah agar lebih tahan bencana, pelibatan pemuda sebagai penggerak, serta penerapan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari menjadi prioritas.
“Adaptasi merupakan proses sosial–ekologis, bukan sekadar teknis,” tegasnya.
Penguatan nagari sebagai unit sosial–ekologis menjadi kunci.
Kearifan lokal perlu diinstitusionalisasikan dalam sistem kebencanaan formal.
Tando-tando alam yang telah teruji harus diakui sebagai indikator lokal dalam sistem peringatan dini dan diintegrasikan dengan teknologi.
Masjid, lapau, dan perangkat nagari perlu diposisikan sebagai kanal resmi komunikasi darurat.
Dengan memadukan kearifan lokal dan pendekatan ilmiah, diharapkan risiko bencana dapat ditekan dan pemulihan pasca-bencana menjadi lebih adil dan berkelanjutan.






