Hindari Menunda Kepastian, Beri Kejelasan Segera!

oleh -133 Dilihat
jangan-biarkan-orang-lain-menunggu-dalam-ketidakjelasan
Jangan Biarkan Orang Lain Menunggu dalam Ketidakjelasan

Padang – Kebiasaan berkomunikasi yang kurang jelas, seperti janji yang tidak ditepati atau permintaan bantuan tanpa detail, dapat berdampak signifikan pada penerima pesan. Rezkya Afril, mahasiswa Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang, menyoroti pentingnya kejelasan dalam komunikasi, terutama dalam konteks sosial dan agama.

Seringkali, seseorang mengirim pesan singkat seperti “Nanti aku kabari ya,” atau “Bisa bantu nggak?” tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Hal ini, menurut Afril, dapat menyebabkan ketidakpastian dan penundaan bagi penerima. “Tanpa kejelasan, seseorang bisa saja menunggu dalam ketidakpastian, menunda kegiatan lain, menolak ajakan, atau bahkan merasa sungkan untuk melanjutkan aktivitas karena mengira ia akan segera dibutuhkan,” ujarnya.

Afril menekankan bahwa pembatalan sepihak tanpa penjelasan atau permintaan maaf dapat membuat seseorang merasa waktunya tidak dihargai dan bahkan diabaikan. “Lama-kelamaan, orang yang diperlakukan seperti itu akan merasa bahwa waktunya tidak dihargai. Bahkan lebih dari itu, merasa dirinya pun diabaikan,” jelasnya.

Dalam perspektif Islam, komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga tentang akhlak dan amanah. Afril mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila diberi amanah, ia berkhianat.”

Menurut Afril, janji tidak hanya terbatas pada pernyataan eksplisit, tetapi juga mencakup ekspektasi yang dibangun melalui ucapan dan sikap. “Maka ketika kita membiarkan orang menunggu tanpa kepastian, sesungguhnya kita sedang menyia-nyiakan sebuah amanah kecil yang punya dampak besar,” katanya.

Dalam pandangan psikologi, komunikasi yang ambigu dapat menciptakan ketidaknyamanan dan ketidakpastian emosional. Afril mengutip pernyataan Dr. Brené Brown, “Clear is kind. Unclear is unkind,” yang menekankan bahwa kejelasan adalah bentuk kebaikan, sementara ketidakjelasan adalah bentuk ketidaksopanan.

Afril juga menyinggung istilah ambiguous loss, yaitu perasaan kehilangan atau kekosongan emosional akibat tidak adanya kejelasan. “Dalam situasi seperti ini, seseorang bisa merasa bingung: apakah ia masih harus menunggu? Apakah ia masih dibutuhkan? Lama-lama, hal ini bisa menimbulkan frustrasi, rasa tidak dihargai, dan bahkan penurunan harga diri,” paparnya.

Oleh karena itu, Afril mengajak masyarakat untuk berkomunikasi dengan lebih beradab, yaitu dengan memberikan penjelasan rinci saat meminta bantuan, memberikan informasi jika masih membutuhkan waktu, dan menyampaikan pembatalan segera disertai permintaan maaf. “Kejelasan bukan sekadar etika komunikasi, tapi juga bentuk penghormatan terhadap waktu, tenaga, dan perasaan orang lain,” pungkasnya.