FKUI-RSCM Bedah Saraf Tingkatkan Kompetensi Medis Daerah Solok

oleh -172 Dilihat
gubernur-mahyeldi-sambut-baik-pengabdian-bedah-saraf-fkui–rscm-di-rsud-m.-natsir-solok
Gubernur Mahyeldi Sambut Baik Pengabdian Bedah Saraf FKUI–RSCM di RSUD M. Natsir Solok

Solok – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyambut baik inisiatif kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengan RSUD Mohammad Natsir dalam program pengabdian bedah saraf. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di daerah.

Gubernur Sumatera Barat, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran tim FKUI RSCM di RSUD M. Natsir. “Keberadaan tim FK UI RSCM di RSUD M. Natsir merupakan ikhtiar bersama untuk menghadirkan pelayanan bedah saraf yang lebih merata, sekaligus bertujuan untuk meningkatkan kompetensi tenaga medis daerah,” ujarnya di Solok, Jumat (21/11/2025).

RSUD M. Natsir, sebagai rumah sakit rujukan bagi enam kabupaten/kota di Sumatera Barat, mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah kunjungan pasien sejak tahun 2020. Gubernur berharap agar kerjasama semacam ini dapat berlanjut secara berkelanjutan. “Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi menjadi awal dari kerja sama jangka panjang yang berdampak positif untuk masyarakat,” harapnya.

Data dari RSUD M. Natsir menunjukkan peningkatan kunjungan pasien rawat jalan dari 81.342 orang pada tahun 2020 menjadi 126.783 orang pada tahun 2024. Sementara itu, pasien rawat inap juga mengalami peningkatan dari 8.593 orang pada tahun 2020 menjadi 13.217 orang pada tahun 2024.

Sebagian besar pasien yang berobat berasal dari Kabupaten Solok (58,2 persen) dan Kota Solok (34,1 persen), diikuti oleh Kota Sawahlunto (2,8 persen), Kabupaten Sijunjung (2,3 persen), Kabupaten Solok Selatan (0,4 persen), dan Kabupaten Dharmasraya (0,3 persen).

Kepala Bedah Saraf FK UI RSCM, Dr. Setyo Widi Nugroho, menyoroti pentingnya perhatian terhadap sektor kesehatan saraf di Indonesia, terutama dalam layanan Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefro (KJSU). Ia juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat akan risiko keterlambatan penanganan. “Memang harus kita akui bersama bahwa kualitas dan akses layanan stroke di Indonesia masih jauh tertinggal, karena sebagian besar pasien stroke datang terlambat, sehingga membutuhkan pengobatan skala berat,” ungkapnya.

Berdasarkan analisis internal, Setyo menambahkan bahwa Indonesia membutuhkan 435 rumah sakit siap stroke untuk mengakomodasi kebutuhan pasien, sementara yang tersedia saat ini hanya 37 rumah sakit. Oleh karena itu, penguatan layanan bedah saraf di daerah menjadi sangat penting.