Pupuk Indonesia Jaga Pasokan, Siap Ekspor Urea Aman

oleh -17 Dilihat
pupuk-indonesia-jaga-pasokan,-siap-ekspor-urea-saat-aman
Pupuk Indonesia Jaga Pasokan, Siap Ekspor Urea saat Aman

Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan siap mendukung rencana pemerintah membuka peluang ekspor pupuk urea ke pasar global, selama kebutuhan petani di dalam negeri tetap terpenuhi terlebih dahulu.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan perusahaan saat ini memiliki ketahanan pasokan yang kuat, terutama untuk komoditas urea, di tengah dinamika geopolitik dunia. Ia menegaskan ekspor hanya akan dilakukan jika kebutuhan nasional sudah aman.

“Arahan dari Kementerian Pertanian melalui Pak Wakil Menteri Pertanian sangat jelas. Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri cukup,” kata Rahmad usai mendampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono bertemu Duta Besar India untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Rahmad mengatakan posisi Indonesia kini kian strategis karena termasuk salah satu produsen urea terbesar di dunia. Menurut dia, disrupsi rantai pasok pupuk global justru membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar melalui ekspor.

“Di tengah gejolak global, banyak orang selalu berpikir kita pasti rentan. Tapi ternyata di sektor industri pupuk kita itu kita tidak rentan, justru malah bisa mengambil posisi sebagai salah satu penyelamat ekosistem pangan regional. Karena kita bisa membantu negara-negara yang membutuhkan pupuk,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut empat negara telah menyampaikan minat untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia. Keempat negara tersebut adalah Australia, India, Filipina, dan Brasil.

Minat itu muncul di tengah gangguan distribusi global yang dipicu situasi di Selat Hormuz. Kendati begitu, pemerintah menegaskan kebijakan ekspor akan dijalankan secara hati-hati agar kebutuhan petani dalam negeri tetap menjadi prioritas.

“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” kata Sudaryono.

Rahmad menambahkan, rencana ekspor tidak akan mengganggu pasokan domestik karena perusahaan menghitungnya berdasarkan kalender masa tanam. Pupuk Indonesia, kata dia, hanya akan mengekspor jika mendapat penugasan resmi dari pemerintah dan stok untuk petani dipastikan aman.

“Nah, kita tidak mungkin akan mengekspor ketika musim tanam. Itu tadi jelas dan Dubes India sudah menyepakati bahwa kita mengekspor di luar musim tanam,” ucapnya.

Saat ini, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi urea 9,4 juta ton per tahun. Jumlah itu lebih tinggi dibanding kebutuhan domestik yang berada di kisaran 6 juta hingga 7 juta ton per tahun.

Produksi tersebut ditopang pasokan bahan baku utama berupa gas alam yang dijamin pemerintah, baik dari sisi volume maupun harga. Dengan dukungan itu, stok pupuk perusahaan per 14 April 2026 tercatat sekitar 1,2 juta ton, baik subsidi maupun non-subsidi.

“Saat ini (stok kami) 1,2 juta ton. Jadi 1,2 juta ton ditambah dengan produksi kita yang setiap hari itu untuk urea saja sekitar 25 ribu ton per hari. Ditambah untuk NPK kita itu kira-kira sekitar 15 ribu ton per hari. Jadi sangat cukup,” kata Rahmad.

Di sisi lain, pemerintah memastikan harga pupuk subsidi tetap stabil meski harga pupuk dunia berfluktuasi. Penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20 persen pada Oktober 2025 menjadi salah satu langkah untuk menjaga keterjangkauan bagi petani.

“Seperti yang sudah ditegaskan oleh Pak Mentan dan Wamentan, HET pupuk subsidi untuk petani akan tetap sama. Artinya ketika harga dunia naik, harga pupuk subsidi di Indonesia justru turun,” kata dia.