Shadiq Pasadigue Dorong Keadilan dan Keadaban Pemasyarakatan

oleh -22 Dilihat
hari-bakti-pemasyarakatan,-shadiq-pasadigue:-kesempatan-baik-tingkatkan-keadilan-dan-keadaban
Hari Bakti Pemasyarakatan, Shadiq Pasadigue: Kesempatan Baik Tingkatkan Keadilan dan Keadaban

Jakarta – Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan kembali menjadi momentum untuk menegaskan bahwa sistem pemasyarakatan di Indonesia bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembinaan dan pemulihan martabat manusia. Tahun ini, peringatan tersebut mengusung tema “Pemasyarakatan Kerja Nyata, Pelayanan Prima”.

Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai NasDem, Dr. (HC) Ir. M. Shadiq Pasadigoe, S.H., M.M, mengatakan pemasyarakatan harus dipahami sebagai perjalanan kemanusiaan untuk menemukan kembali jati diri, bukan hanya proses menjalani pidana.

“Pemasyarakatan adalah cermin peradaban. Di sanalah negara diuji, apakah mampu memperlakukan manusia dengan adil, bahkan ketika mereka pernah melakukan kesalahan,” ujar Shadiq dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).

Ia menambahkan, sistem pemasyarakatan yang baik harus berdiri di atas prinsip keadilan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Menurutnya, pendekatan yang humanis dapat memberi peluang bagi warga binaan untuk kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.

Shadiq juga mengaitkan persoalan pemasyarakatan dengan pengalaman sejarah keluarganya. Ia menyebut ayahandanya pernah menjalani masa pengasingan dan penahanan di Boven Digoel, Papua, yang dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai tempat pembuangan sejumlah tokoh bangsa.

“Dari sejarah itu kita belajar, bahwa di balik keterbatasan dan penderitaan, selalu ada harapan. Bahwa manusia tidak boleh dihakimi selamanya oleh masa lalunya. Setiap insan memiliki ruang untuk berubah dan memperbaiki diri,” tegasnya.

Menurut Shadiq, pemasyarakatan pada dasarnya adalah upaya memanusiakan manusia. Hukum, kata dia, tidak semata-mata berfungsi untuk menghukum, tetapi juga menuntun dan membuka jalan bagi seseorang untuk kembali ke kehidupan yang lebih baik.

“Hukum tanpa kemanusiaan akan kehilangan makna, dan pemasyarakatan tanpa harapan akan kehilangan arah. Maka di sinilah negara harus hadir, bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan,” tambahnya.

Ia berharap peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan dapat memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, pembinaan, dan perlindungan hak warga binaan.

Dengan begitu, sistem pemasyarakatan diharapkan benar-benar menjadi sarana transformasi sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Menutup pernyataannya, Shadiq mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan momentum ini sebagai pengingat untuk memperkuat empati dan keadilan.

“Karena sejatinya, ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak hanya dilihat dari kemegahannya, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang pernah jatuh, lalu diberi kesempatan untuk bangkit kembali,” pungkasnya.