Seminar Buku Prosumenesia, Rahmat Saleh : Generasi Muda Aktor Demokrasi

oleh -181 Dilihat
seminar-buku-prosumenesia,-rahmat-saleh-:-generasi-muda-aktor-demokrasi
Seminar Buku Prosumenesia, Rahmat Saleh : Generasi Muda Aktor Demokrasi

Jakarta – Peran sentral generasi muda dalam dinamika politik Indonesia menjadi sorotan utama dalam seminar dan peluncuran buku berjudul “Prosumenesia: Transformasi Media Digital dalam Politik dan Demokrasi” yang diselenggarakan di Ruang GBHN, DPR, Kamis (11/9/2025). Buku ini memperkenalkan istilah “Prosumenesia” sebagai konsep baru dalam lanskap komunikasi digital Indonesia.

Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh, menekankan bahwa generasi muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z, yang mencakup sekitar 60 persen pemilih pada Pilpres 2024, memiliki pengaruh signifikan. “Generasi Y dan Z merupakan segmen kunci sekaligus arena perebutan narasi utama dalam pemilu,” ujarnya.

Buku tersebut menganalisis bagaimana generasi digital native menggunakan media sosial sebagai platform utama untuk memperoleh informasi, berdiskusi, membentuk opini, dan mengekspresikan identitas politik. Partisipasi politik digital Gen Z ditandai dengan kecepatan, instanitas, dan skala masif, yang terwujud melalui kampanye tagar, petisi daring, dan kampanye viral.

Rahmat menyoroti bahwa bahasa media yang provokatif dan simbolik seringkali memicu isu politik menjadi tren dengan cepat. “Tanpa literasi kritis, pemilih muda rentan diarahkan oleh popularitas dan tren, alih-alih menilai substansi kebijakan,” ungkapnya.

Untuk mengatasi tantangan ini, Rahmat merekomendasikan transparansi kepemilikan media, diversifikasi media, dan pelibatan generasi muda dalam forum legislasi. Ia juga mengingatkan KPU dan Bawaslu untuk memastikan kampanye digital berfokus pada substansi program, menyediakan kanal pemeriksaan fakta, dan mengadakan debat publik digital yang relevan bagi Gen Z.

Rekomendasi serupa ditujukan kepada komunitas pemuda dan civil society, dengan menekankan perlunya memperkuat literasi media, menciptakan ruang deliberasi digital, dan terlibat sebagai produsen konten politik alternatif. Rahmat menegaskan bahwa generasi Y dan Z bukan hanya target suara, tetapi juga aktor penting dalam demokrasi.

Wakil Ketua Komisi I DPR, Sukamta, turut hadir dan menggambarkan era digital sebagai “pisau bermata dua,” yang menawarkan ruang partisipasi yang luas, tetapi juga menghadirkan tantangan seperti misinformasi, disinformasi, filter bubble, echo chamber, dan polarisasi masyarakat.

Era prosumen telah mengubah komunikasi dari satu arah menjadi kolaboratif berbasis partisipasi, di mana individu tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga memproduksi dan menyebarkannya.

Penulis buku, Mira Natalia, mencontohkan fenomena FOMO (Fear of Missing Out) di media sosial yang mendorong masyarakat untuk rela mengantre membeli cokelat Dubai, meskipun rasanya mungkin tidak sebanding dengan harganya. “Ini membuktikan terjadinya Prosumen di Indonesia (Prosumenesia),” katanya.

Penulis lainnya, Andre Sainyakit, menekankan pentingnya komunikasi politik berbasis perdamaian. “Politik yang damai berarti politik yang membuka ruang dialog, mendengar aspirasi, dan berani berpihak pada keadilan substantif,” tuturnya.

Seminar tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan akademisi, politisi, mahasiswa, dan tenaga ahli DPR, yang terlibat dalam diskusi interaktif seputar tren baru komunikasi digital. Turut hadir pula Kaprodi Ilmu Komunikasi Pascasarjana Usahid, Prasetya Yoga Santoso, editor buku, Mirza Ronda, dan penelaah independen, Prof Johanes Basuki.