Pusdatin Puan Riau Dikukuhkan, Bedah Data Perempuan Riau

oleh -198 Dilihat
pengurus-pusdatin-puan-riau-dikukuhkan,-ulas-data-informasi-perempuan-riau-melalui-buku
Pengurus Pusdatin Puan Riau Dikukuhkan, Ulas Data Informasi Perempuan Riau Melalui Buku

Pekanbaru – Pusat Data dan Informasi Perempuan (Pusdatin Puan) Riau memasuki era baru dengan pengukuhan pengurus periode 2024-2029. Acara pelantikan dipimpin oleh Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Riau, Zulkifli Syukur, mewakili Gubernur Riau.

Organisasi ini, yang pertama kali diresmikan pada 31 Desember 2004, oleh Gubernur Riau saat itu, HM Rusli Zainal, dengan disaksikan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI, Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, didirikan atas inisiatif Hj. Roslaini Ismail Suko, yang saat itu menjabat sebagai Ketua BKOW Provinsi Riau.

Di bawah kepemimpinan Hj. Septina Primawati, Pusdatin Puan Riau menegaskan komitmennya untuk mengumpulkan data perempuan secara kuantitatif dan kualitatif di seluruh Riau. Septina menyatakan, “Pusdatin Puan bukan hanya soal data, tapi tentang menyusun sejarah perempuan Riau, mendokumentasikan kontribusi mereka, dan menjadikannya inspirasi lintas generasi.”

Selama hampir dua dekade, Pusdatin Puan Riau telah menghasilkan berbagai publikasi penting, termasuk ‘Mutiara Yang Terjaring’, yang menampilkan profil 18 tokoh perempuan inspiratif dari berbagai kabupaten dan kota di Riau, serta Direktori Perempuan Riau yang mendokumentasikan peran dan kontribusi perempuan di berbagai bidang. Selain itu, organisasi ini juga telah menyusun direktori organisasi perempuan di Riau, mencatat sejarah, struktur kepengurusan, dan kegiatan organisasi.

Pusdatin Puan Riau juga telah menerbitkan buku ‘Perempuan Legislatif Riau’, yang menyoroti keterlibatan perempuan di parlemen tingkat provinsi hingga nasional. Septina Primawati menambahkan bahwa organisasi ini telah menelusuri jejak perempuan dalam sejarah perjuangan daerah, termasuk Ibu Fatimah Solder, seorang pejuang perempuan di era penjajahan Jepang yang kini dianugerahi gelar Pejuang Perempuan Riau.

Ke depan, Pusdatin Puan Riau berencana memperluas jangkauan pendataannya, termasuk mendokumentasikan profil camat, lurah, dan kepala desa perempuan. Septina juga menyampaikan rencana penerbitan buku berjudul Puan Negeri Sunting, yang akan mendokumentasikan para istri Gubernur Riau dari masa ke masa.

Selain itu, akan diterbitkan buku berjudul ‘Ketika Negara Memberi Amanah’ yang menghimpun beberapa kisah inspiratif para menteri perempuan Indonesia seperti Lasiyah Soetanto, Tuty Alawiyah, Meutia Hatta, Linda Amalia Sari Gumelar, Siti Nurbaya Bakar, dan lain sebagainya. Septina menambahkan, “Dan kita juga tengah mempersiapkan dokumentasi tentang pengalaman perempuan dalam menghadapi masa pandemi Covid-19, serta mendata dan menulis profil perempuan pembatik yang telah menghidupkan kembali warisan budaya di berbagai kabupaten/kota Riau. Mohon do’anya agar dapat tercapai maksud tujuan kami ini.”

Pusdatin Puan Riau berharap dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Provinsi Riau. Septina menyatakan, “Kami berharap pemerintah terus mensupport program-program kami, karena apa yang kami lakukan adalah bagian dari mencatat sejarah, memberi tempat bagi kiprah perempuan, dan memastikan bahwa suara mereka tidak tenggelam oleh waktu.” Ia menyimpulkan, “Dengan semangat yang menyala, dedikasi yang tak surut, dan visi yang berpijak pada data serta sejarah, Pusdatin Puan Riau tidak sekadar menjadi lembaga pencatat. Ia adalah rumah besar bagi kisah-kisah perempuan hebat Riau yang terdokumentasi untuk dikenang, dihargai, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.”

Zulkifli Syukur menyampaikan selamat dan apresiasi kepada pengurus Pusdatin Puan Riau yang telah dikukuhkan, dengan harapan organisasi ini dapat lebih kolaboratif serta tumbuh sebagai wadah yang menghimpun gagasan, mengolah data, dan menyuarakan aspirasi perempuan di Provinsi Riau. Zulkifli Syukur menjelaskan, “Pusdatin Puan Riau tentunya memegang banyak peranan penting dalam menyajikan data dan informasi yang akurat tentang perempuan, anak, dan keluarga di Provinsi Riau. Organisasi ini pun harus dapat membantu menggali dan memetakan berbagai persoalan yang dihadapi perempuan di Riau, terutama dalam hal kesehatan dan kesejahteraan suatu keluarga.”

Ia menambahkan pentingnya isu-isu kesehatan perempuan, termasuk akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, edukasi gizi, deteksi dini penyakit, hingga kesehatan mental. Zulkifli Syukur menyatakan, “Kondisi ini mengingatkan kita bahwa kesehatan perempuan bukan hanya tentang sosok ibu sebagai individu, tetapi sebagai penentu kualitas generasi perempuan sehat yang nantinya akan melahirkan dan membesarkan anak-anak yang kuat, cerdas, dan berkarakter.”

Zulkifli Syukur menutup sambutannya dengan harapan, “Kepada Pusdatin Puan Riau kedepannya kami berharap jadilah pusat data yang tidak hanya menyimpan angka, tetapi juga merekam suara perempuan dari Desa hingga Kota. Selanjutnya, jadilah penggerak yang tidak hanya melaporkan masalah, tetapi memberikan usulan solusi. Dan terakhir kita inginkan, jadilah mitra yang kritis serta konstruktif yang mampu menjembatani antara kebutuhan masyarakat dan kebijakan pemerintah.”

Acara diakhiri dengan ucapan selamat dan foto bersama.