Gresik – PT Garam (Persero) merespons cepat target swasembada garam yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dengan program ekstensifikasi dan modernisasi produksi. Langkah ini diharapkan mampu menghasilkan 500 ribu ton garam nasional.
Direktur Keuangan PT Garam, Yani, menyatakan Madura akan tetap menjadi sentra penghasil garam. Air laut dari Madura akan dikeringkan dan diolah di Gresik menjadi berbagai varian garam.
“Madura tetap jadi central penghasil garam, dari air laut madura itu dikeringkan dibawa ke Gresik lalu diolah menjadi garam dengan berbagai varian,” ujar Yani, didampingi Komisaris PT Garam Masril Koto, Rabu (4/3/2026).
Selain itu, PT Garam bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun tambak garam terluas di Asia Tenggara di Rote.
“Saat ini masih proses pembangunan yang dikerjakan BUMN PT Nindya Karya,” kata Masril.
Masril menekankan pentingnya menjadikan garam sebagai komoditas nasional unggulan. Ia menilai, tanpa garam, makanan akan terasa hambar.
Yani menegaskan, swasembada garam adalah tantangan yang harus dihadapi dengan komitmen untuk menghentikan impor garam.
“Kalau kran impor garam terus dibuka, maka matilah kita,” tegas Yani.
Berdasarkan kajian PT Garam, kebutuhan garam nasional mencapai 5 juta ton. Saat ini, PT Garam baru mampu memproduksi 350 ribu ton, sedangkan garam rakyat sekitar 1,5-2 juta ton. Kekurangan tersebut selama ini dipenuhi melalui impor sekitar 2,5 juta ton.
Modernisasi tambak seluas 13 ribu hektar di Rote diharapkan dapat menghasilkan 2,6 juta ton garam per tahun, dengan asumsi satu hektar menghasilkan 200 ton.
Yani menambahkan, dengan dukungan pabrik di berbagai daerah, swasembada garam dapat tercapai. Bahkan, PT Garam memiliki mimpi untuk bisa melakukan ekspor garam.
“Swasembada tercapai, bisa saja PT Garam ekspor, ekspor garam adalah mimpi panjang yang jadi kenyataan,” ujar Yani.






