Petani Padang Bangkit: Menanam Harapan dari Pondok Agroekologi Sawah Lua

oleh -227 Dilihat
petani-padang-bangkit:-menanam-harapan-dari-pondok-agroekologi-sawah-lua
Petani Padang Bangkit: Menanam Harapan dari Pondok Agroekologi Sawah Lua

Padang – Di tengah kekhawatiran akan masa depan pertanian lokal, petani dari berbagai wilayah di Kota Padang berkumpul untuk memperdalam pengetahuan tentang praktik pertanian berkelanjutan. Pelatihan Agroekologi, yang diselenggarakan oleh Daulat Institute di Pondok Daulat Sawah Lua, Kelurahan Kalumbuk, Kecamatan Kuranji, menjadi wadah bagi mereka untuk bertukar pikiran dan mencari solusi atas tantangan yang dihadapi.

Sago Indra dari Daulat Institute, yang juga merupakan Anggota Majelis Nasional Petani (MNP) Serikat Petani Indonesia (SPI), menekankan pentingnya pelatihan ini. “Kami ingin petani tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang dengan pengetahuan agroekologi,” ujarnya saat membuka sesi pelatihan pada Selasa (15/7/2025), seraya menambahkan bahwa “Pertanian itu soal kehidupan, bukan hanya produksi.”

Pelatihan ini menawarkan pendekatan praktis, di mana petani belajar membuat pupuk organik, merevitalisasi tanah yang kurang subur, dan memahami peran penting “kawan alami” dalam ekosistem pertanian.

Fasilitator utama, Rustam Efendi, mendorong peserta untuk mengidentifikasi persoalan dan potensi secara komprehensif. Tujuannya, menurutnya, adalah agar solusi yang dihasilkan dapat mengatasi akar masalah, bukan sekadar solusi sementara.

“Tanpa tanah, tak ada petani. Tanpa petani, tak ada makanan. Dan tanpa makanan, kekacauan pasti terjadi,” tegas Rustam, seraya menekankan bahwa “Petani tidak boleh terus berada di posisi ‘tangan di bawah’, karena merekalah yang memberi makan bangsa ini.”

Rustam mengutip pernyataan Bung Karno tentang petani sebagai pilar negara, dan menegaskan bahwa pertanian adalah fondasi penting bangsa. Baginya, petani bukan hanya sebuah profesi, melainkan bagian integral dari peradaban yang terkait erat dengan masyarakat adat dan kearifan lokal.

“Tagakkan sako, pertahankan pusako,” seru Ketua DPW SPI Sumbar ini. “Pusako adalah jaminan kesejahteraan anak kemenakan. Jika tanah hilang, maka hilang pula masa depan kita.”

Rustam juga mengingatkan petani untuk memiliki visi dan misi yang jelas, yaitu memahami asal-usul, tindakan saat ini, dan tujuan masa depan.

“Cara paling mudah untuk melemahkan petani adalah dengan memecah mereka,” katanya. “Konflik hanya akan menyita tenaga dan membuat kita lupa bahwa tujuan kita adalah hidup yang lebih baik.”

Ia juga menekankan pentingnya perencanaan kelompok tani yang cermat untuk memastikan keberlanjutan pertanian. “Jangan ‘dima tumbuah di sinan disiang’. Sebisa mungkin, sebelum rumput tumbuh, kita sudah tahu jenisnya dan bagaimana menanganinya,” pungkasnya.

Dalam diskusi terbuka, petani berbagi masalah yang mereka hadapi, termasuk tanah sawah yang mengeras akibat residu pupuk kimia, distribusi air irigasi yang tidak merata, dan ancaman alih fungsi lahan untuk proyek perumahan.

Ketua Kelompok Tani Sumber Harapan menyoroti dampak kerusakan hulu sungai dan tata kelola air yang buruk. “Kalau air sekarang hanya beberapa jam langsung habis, beda dengan zaman dulu. Hutan gundul, sungai dangkal, air berebut,” ujarnya.

Ari, salah satu pemateri, mengajak peserta untuk berpikir kritis tentang sejarah dan politik pertanian. “Pupuk sintetis pertama kali dikembangkan untuk senjata. Lalu dijual ke petani. Jadi kita harus sadar, solusi sejati ada di tangan petani sendiri,” jelasnya.

Pelatihan ini juga menyoroti potensi lokal. Kelompok tani seperti Putri Bungsu, Sumber Harapan, dan Rintisan Reski berbagi pengalaman dalam membibitkan padi sendiri, membuat POC dari urin ternak, dan memproduksi pakan dari bahan alami. Sebagian besar peserta bahkan telah beralih ke pertanian tanpa pupuk kimia, sebuah langkah penting menuju kemandirian.

Fitria Suryani, seorang peserta dari Kalumbuk, berharap pelatihan ini dapat diperpanjang. “Tiga hari itu tidak cukup untuk menyerap semua. Banyak ide yang ingin kami praktikkan di rumah,” ungkapnya dengan antusias.

Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk merefleksikan politik pangan, dengan diskusi tentang marginalisasi petani oleh kebijakan agraria dan perdagangan bebas. Rustam menutup pelatihan dengan pesan: “Tegakkan sako, pertahankan pusako. Petani harus tahu dari mana ia berasal, sedang apa, dan mau ke mana.”

Pondok Daulat Sawah Lua kini direncanakan menjadi laboratorium agroekologi di tengah kota, sebuah ruang belajar terbuka bagi petani, generasi muda, dan komunitas kota untuk membangun kedaulatan pangan dari tingkat akar rumput.

Pelatihan ini merupakan bagian dari inisiatif DanaNusantara untuk memperkuat ekosistem pertanian yang adil dan berbasis komunitas di Indonesia. DanaNusantara sendiri adalah inisiatif bersama AMAN – KPA – WALHI untuk mendukung upaya dan inisiatif Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dalam memperjuangkan hak-hak dan meningkatkan kualitas hidup dengan tata kelola sumber daya alam, sumber agraria, dan lingkungan hidup yang mandiri, berkeadilan sosial dan berkelanjutan.