Kurniasih Raih Doktor, Promosikan Disertasi Lewat Teater “Jual Bual

oleh -105 Dilihat
kurniasih-zaitun-gelar-promosi-doktor-lewat-karya-teater-“jual-bual”-di-isi-surakarta
Kurniasih Zaitun Gelar Promosi Doktor Lewat Karya Teater “Jual Bual” di ISI Surakarta

Surakarta – Mahasiswa Program Doktor (S3) Penciptaan Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Kurniasih Zaitun, akan menjalani sidang promosi doktoral yang unik.

Kurniasih akan menggelar pementasan teater berjudul “Jual Bual” sebagai bagian dari disertasinya.

Pementasan akan berlangsung di Teater Arena Taman Budaya Surakarta, Jawa Tengah, Senin (9/2/2026) pukul 19.00–22.00 WIB.

Karya teater “Jual Bual” merupakan bagian integral dari disertasi penciptaan seni berjudul “Dramaturgi Kurenah dalam Penciptaan Teater Jual Bual”.

Penelitian ini berbasis praktik (practice-based research) yang berangkat dari pengamatan langsung terhadap praktik pedagang obat kaki lima di pasar tradisional Minangkabau.

Kurniasih Zaitun, yang juga mengajar di ISI Padang Panjang, menjelaskan bahwa proses penciptaan “Jual Bual” memakan waktu hampir satu tahun.

Sementara riset artistik dan konseptualnya berlangsung sekitar empat tahun.

“Untuk karya teaternya berjudul Jual Bual. Proses penciptaannya hampir satu tahun, sedangkan risetnya sekitar empat tahunan,” kata Kurniasih, Sabtu (7/2/2026).

Sidang promosi doktoral ini dipromotori oleh Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A., dengan Dr. Yusril, M.Sn. sebagai kopromotor.

Tim penguji terdiri dari Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn. (ketua), Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., M.Sn. (sekretaris), Prof. Dr. Sri Rohana Widyastutiningrum, S.Kar., M.Hum., Prof. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si., Dr. Wahyu Novianto, S.Sn., M.Sn., Prof. Sardono W. Kusomo, serta Prof. Dr. Stepanus Hanggar.

Kurniasih menjelaskan bahwa ide penciptaan “Jual Bual” berakar dari pengalaman artistiknya sejak menyelesaikan Program Magister Penciptaan Seni di ISI Surakarta pada 2008.

Karyanya saat itu, “Komplikasi”, menyoroti berbagai penyakit sosial dengan menjadikan praktik komunikasi pedagang obat kaki lima sebagai cermin relasi sosial masyarakat.

Dalam disertasinya, praktik jual obat tidak dipahami semata sebagai aktivitas ekonomi, melainkan sebagai peristiwa performatif.

Ini adalah ruang di mana bahasa, tubuh, waktu, dan kepercayaan dipertaruhkan secara langsung di hadapan publik.

Eksplorasi tersebut berlanjut melalui karya “ICU” dan “ICU+” yang dipentaskan pada 2010 dan 2023, hingga mencapai bentuk sintesisnya dalam “Jual Bual”.

Konsep kunci dalam disertasi ini adalah kurenah, istilah lokal Minangkabau yang merujuk pada perilaku dan kecerdikan sosial yang memadukan siasat, kelenturan bahasa, permainan tubuh, serta pengelolaan waktu dalam situasi komunikasi.

Kurenah diposisikan bukan sebagai objek representasi budaya, melainkan sebagai paradigma dramaturgis dan cara berpikir serta cara kerja penciptaan teater.

Melalui pendekatan teater postdramatik, “Jual Bual” tidak dibangun lewat alur cerita linear, melainkan melalui kolase peristiwa performatif.

Teks bersifat cair dan improvisatif, bahasa berfungsi menunda makna, sementara format pertunjukan menyerupai talkshow atau podcast interaktif yang mencairkan batas antara performer dan penonton.

“Salah satu kebaruan yang ditawarkan adalah perumusan jeda dramatik sebagai strategi dramaturgis yang berakar pada tubuh matrilineal,” kata Kurniasih.

Ia menambahkan bahwa jeda tidak dipahami sebagai kekosongan, melainkan sebagai tindakan performatif, yakni cara tubuh mengelola waktu, kuasa, dan relasi sosial melalui penundaan, keheningan, dan ketahanan.

Secara artistik, pertunjukan “Jual Bual” menawarkan model penciptaan teater yang cair, improvisatif, dan berakar pada praktik sosial rakyat.

Secara akademik, disertasi ini memperluas wacana teater Indonesia dengan menghadirkan dramaturgi kurenah sebagai paradigma lokal yang mampu berdialog dengan teori global.

Dengan menjadikan praktik pedagang obat kaki lima sebagai basis penciptaan, teater “Jual Bual” menegaskan teater sebagai ruang perjumpaan antara seni, publik, dan realitas sosial.

Ini adalah praktik artistik yang bekerja melalui risiko, kehadiran tubuh, dan penundaan makna.