Bukittinggi – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, memberikan sinyal dukungan terhadap usulan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang menginginkan daerahnya ditetapkan sebagai daerah istimewa. Dukungan ini muncul menanggapi narasi historis kuat yang dibawa oleh Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, terkait peran vital wilayah tersebut dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pernyataan tersebut mengemuka saat perhelatan Jam Gadang Cultural Night 2026 di Kota Bukittinggi, Sabtu (20/6/2026) malam. Fadli Zon menilai, rekam jejak Bukittinggi yang pernah menjadi ibu kota negara melalui Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) menjadi landasan historis yang sangat layak dipertimbangkan.
“Saya mendukung, tetapi harus serius. Menurut saya sangat pantas. Daerah yang pernah menjadi ibu kota negara tidak banyak. Selain Jakarta dan Yogyakarta, ada Bukittinggi,” ujar Fadli.
Ia menambahkan, tanpa adanya PDRI di Bukittinggi pada masa Agresi Militer Belanda, eksistensi NKRI saat itu berada dalam ancaman besar. Baginya, peran krusial tersebut menempatkan Sumatera Barat dalam posisi unik dalam sejarah perjalanan bangsa.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, secara resmi melayangkan usulan tersebut di hadapan Menteri Kebudayaan dan para tamu kehormatan. Vasko memandang status daerah istimewa sebagai bentuk apresiasi yang sepadan bagi kontribusi besar masyarakat dan tokoh-tokoh Sumbar dalam menjaga kedaulatan negara.
“Di depan Jam Gadang ini Pak Menteri, jika diperbolehkan, atas nama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, kami mengusulkan Sumatera Barat menjadi daerah istimewa di Indonesia. Mari sama-sama kita kawal, Pak Menteri,” tutur Vasko.
Vasko menekankan bahwa status tersebut bukan sekadar wacana, melainkan pengakuan atas fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat, baik di daerah maupun perantauan, untuk memiliki komitmen kolektif dalam memperjuangkan status tersebut.
Menanggapi hal itu, Fadli Zon menegaskan bahwa meskipun ia memberikan dukungan, proses penetapan status istimewa memerlukan kajian yang matang dan perjuangan yang serius.
Momen tersebut menjadi puncak dari peringatan satu abad Jam Gadang. Selain menjadi ajang refleksi sejarah, malam kebudayaan ini sukses menyoroti kembali urgensi Bukittinggi sebagai titik krusial dalam keberlangsungan Republik Indonesia.






