Ketua LKAAM Sumbar Prihatin Bahasa Minang Tak Banyak Ditemukan Lagi di Keluarga Minang

oleh -177 Dilihat
ketua-lkaam-sumbar-prihatin-bahasa-minang-tak-banyak-ditemukan-lagi-di-keluarga-minang
Ketua LKAAM Sumbar Prihatin Bahasa Minang Tak Banyak Ditemukan Lagi di Keluarga Minang

Padang – Kekhawatiran akan hilangnya bahasa Minang dari generasi muda menjadi sorotan utama dalam diskusi buku “Palajaran Muatan Lokal Kaminangkabauan” karya Fredrik Tirtosuryo Esoputro yang digelar secara daring, Kamis (20/11/2025). Para ahli dan pemerhati budaya Minang menekankan pentingnya pengajaran bahasa dan budaya Minang sejak usia dini.

Diskusi yang dibuka oleh Ketua DPD SatuPena Sumatera Barat, Sastri Bakry, menghadirkan sejumlah pembicara, termasuk Ketua LKAAM Sumbar, Fauzi Bahar, Peneliti Madya BRIN, Zusneli Zubir, Guru BAM dan Dosen BAM, Fauriza, serta Guru BAM di Kota Pariaman, Devina Heriyanti.

Sastri Bakry mengungkapkan bahwa buku karya Fredrik Tirtosuryo Esoputro tersebut sangat menarik dan diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk melestarikan bahasa dan budaya Minangkabau. “SatuPena Sumatera Barat rutin melakukan diskusi buku, peluncuran buku dan menerbitkan buku anggotanya untuk mendorong semangat menulis dan melestarikan nilai-nilai pemikiran dari anggotanya,” ujarnya.

Fauzi Bahar menyampaikan apresiasi atas diskusi buku tersebut dan menyoroti pentingnya pelajaran Kaminangkabauan bagi generasi muda Minang, baik di Sumatera Barat maupun di perantauan. Ia mengungkapkan keprihatinannya atas hilangnya banyak kosakata Minang dari percakapan sehari-hari. “Kita menyadari betapa pentingnya pelajaran Kaminangkabauan ini bagi anak-anak dan remaja di Sumatera Barat dan di rantau bagi orang Minang. Saat ini sudah banyak kata-kata Minang yang hilang dari kehidupan keseharian. Bagaimana 20 tahun kedepan, sudah pasti semakin banyak kata-kata bahasa Minang hilang yang tidak lagi dipahami generasi muda Minang,” ungkapnya.

Fauzi Bahar juga mengusulkan dua cara untuk melestarikan bahasa Minang, yaitu melalui lembaga pendidikan dan keluarga. “Ada dua cara melestarikan bahasa Minang. Pertama lembaga pendidikan, sekolah, melalui kurikulum muatan lokal dan juga lewat lomba berbahasa Minang. Ini akan memaksa anak-anak untuk belajar bahasa dan budaya Minang. Kedua, rumah tangga yang selalu menggunakan bahasa Minang sebagai bahasa ibu dalam berkomunikasi di rumahnya. Jangan di rumah tangga sudah berbahasa Indonesia, sehingga anak-anak akan merasa asing dengan kata-kata berbahasa Minang,” jelasnya.

Zusneli Zubir dan Fauriza memberikan pujian terhadap buku tersebut, namun juga memberikan kritik konstruktif terkait beberapa bagian yang perlu ditambahkan, seperti informasi mengenai pakaian adat dan nama-nama obat tradisional yang kurang dikenal oleh generasi muda saat ini.

Iramady Irdja, seorang perantau Minang di Yogyakarta, berbagi pengalamannya dalam menanamkan bahasa Minang kepada anak cucunya di lingkungan yang didominasi bahasa Sunda. “Saya selalu memutar lagu-lagi Minang dalam perjalanan di mobil bersama keluarga, menceritakan kisah dan legenda Minang kepada anak cucu. Sehingga mereka mengetahui kata-kata Minang. Pulang ke Sumatera Barat, saya perkenalkan berbagai hal di sepanjang perjalanan dengan bahasa Minang. Namun, anehnya banyak juga yang ditemui di Sumatera Barat tidak lagi paham kata-kata Minangnya,” tuturnya.

Iramady menyimpulkan bahwa pelestarian bahasa dan budaya Minang memerlukan tindakan sistematis dari pemerintah daerah melalui kebijakan di sekolah dan penerapan bahasa ibu di lingkungan keluarga.

Devina Heriyanti menyoroti keberadaan aksara Minangkabau dalam buku tersebut, meskipun aksara ini kurang dikenal karena dominasi aksara Arab Melayu setelah masuknya Islam ke Minangkabau. “Dalam buku yang ditulis Fredrik ada aksara Minangkabau. Namun aksara itu tidak banyak dikenal karena kemudian muncul aksara Arab Melayu. Aksara Arab Melayu setelah Islam masuk ke Minangkabau yang banyak digunakan orang Minang dulunya. Namun kini aksara itu nyaris juga sudah mulai hilang karena tidak pernah diajarkan lagi,” katanya.

Diskusi daring yang dimoderatori oleh Sekretaris DPD SatuPena Sumatera Barat, Armaidi Tanjung, dihadiri oleh tokoh-tokoh dari berbagai daerah, termasuk Australia, Yogyakarta, dan Jawa Barat, serta para pencinta budaya Minangkabau.