Silangit – Dampak signifikan pada infrastruktur dan telekomunikasi memperlambat upaya penanggulangan bencana hidrometeorologi di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Hal ini diungkapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam konferensi pers yang digelar di Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada Jumat (28/11).
Menurut keterangan BNPB, bencana ini telah menyebabkan 178 orang meninggal dunia, 79 hilang, dan 12 luka-luka. Sumatera Utara menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal dunia tertinggi, mencapai 116 jiwa, dengan 42 orang masih dalam pencarian. Korban tersebar di berbagai wilayah, termasuk Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Humbang Hasundutan, Kota Padang Sidempuan, dan Pakpak Barat. “Per hari ini kami mendata korban meninggal dunia 116 dan 42 masih dalam pencarian. Tentu saja data ini akan berkembang terus masih ada titik-titik yang belum ditembus. Yang diindikasikan di lokasi longsor itu mungkin juga ada korban jiwa,” ujar perwakilan BNPB.
Pendataan titik pengungsian masih berlangsung di sebagian besar wilayah, kecuali Humbang Hasundutan yang memiliki satu titik pengungsian. Mandailing Natal mencatat delapan titik pengungsian dengan jumlah terdampak terbesar berada di Kecamatan Siabu, Muara Batang Gadis, dan Batahan.
Gangguan infrastruktur memperparah situasi, dengan jalur transportasi terputus di beberapa titik. Di Tapanuli Selatan, jalur nasional Sidempuan-Sibolga terputus di satu titik, sementara jalur Sipirok-Medan terputus di dua titik. Di Mandailing Natal, beberapa ruas jalan seperti Singkuang-Tabuyung dan Bulu Soma-Sopotinjak terputus akibat banjir dan longsor. Upaya pembukaan akses terus dilakukan dengan pengerahan alat berat.
Penyaluran logistik telah dilakukan, terutama di Tapanuli Tengah dan Mandailing Natal, termasuk bantuan beras, makanan siap saji, tenda, terpal, serta family kit. Pemerintah pusat juga mengerahkan personel BNPB, TNI/Polri, serta dukungan lintas kementerian/lembaga. Bantuan Presiden berupa alat komunikasi, genset, LCR, kompresor, tenda, dan kebutuhan konsumsi telah disalurkan. Dukungan alutsista meliputi pesawat Caravan, helikopter Airbus EC 155 untuk distribusi logistik-peralatan dan alat berat untuk mempercepat pembukaan akses desa terdampak.
Selain infrastruktur, sistem jaringan telekomunikasi juga terganggu, menyebabkan keterlambatan pendataan, distribusi, hingga perkembangan informasi di lapangan. BNPB menyediakan alat penyedia jaringan internet Starlink yang ditempatkan di lokasi pengungsian maupun di posko penanganan darurat. “Starlink sudah didistribusikan ke pemerintah daerah, baik di titik pengungsian maupun di posko penanganan darurat,” kata perwakilan BNPB.
Di Provinsi Aceh, BNPB mencatat 35 korban meninggal, 25 orang hilang, dan 8 luka-luka. Korban terbanyak berasal dari Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah. Pendataan masih berlangsung di sejumlah wilayah seperti Aceh Timur, Aceh Singkil, dan Aceh Utara. “Ini akan berkembang terus datanya. Dan sementara yang terdata ada 35 jiwa yang meninggal dunia,” ungkap perwakilan BNPB.
Pengungsian tersebar luas di 20 kabupaten/kota, termasuk 96 titik di Kota Lhokseumawe. “Per sore ini yang mengungsi ada 4.846 KK,” imbuh perwakilan BNPB. Akses transportasi di beberapa wilayah Aceh mengalami kerusakan signifikan, termasuk jalur nasional perbatasan Sumut-Aceh yang terputus akibat longsor.
Sementara itu, di Sumatra Barat, tercatat 23 korban meninggal, 12 orang hilang, dan 4 luka-luka yang tersebar di beberapa wilayah seperti Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, Kota Padang, serta Pasaman Barat. “Di Sumatra Barat itu 23 meninggal dunia, 12 hilang dan 4 luka-luka,” kata perwakilan BNPB. “Pengungsi terdata ada 3.900 KK. Yang terparah ada di Padang Pariaman, Tanah Datar, Kabupaten Solok dan Kota Padang,” tambahnya.
Sebagai respons terhadap peningkatan risiko bencana hidrometeorologi, BNPB memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara serentak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Operasi ini bertujuan mengurangi potensi curah hujan di kawasan rawan bencana melalui rekayasa pengalihan awan hujan ke wilayah yang lebih aman. “Kami melaksanakan OMC di masing-masing provinsi,” jelas perwakilan BNPB.






