Andre Rosiade Apresiasi Pembangunan Industri Baterai Kendaraan Listrik

oleh -193 Dilihat
pembangunan-industri-baterai-kendaraan-listrik-terintegrasi-diapresiasi-andre-rosiade
Pembangunan Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi Diapresiasi Andre Rosiade

Jakarta – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, memberikan apresiasi terhadap pembangunan industri baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi yang tengah berjalan. Proyek ini melibatkan konsorsium BUMN bersama mitra global di Halmahera Timur dan Karawang.

Menurut Rosiade, proyek yang diinisiasi oleh Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co., Ltd. (CBL), PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), dan PT Industri Baterai Indonesia (IBC) ini, memiliki peran sentral dalam transformasi industri dan menjadi pendorong utama kemandirian energi nasional.

“Ini bukan hanya tentang membangun pabrik, tapi membangun masa depan industri kendaraan listrik Indonesia,” ujarnya pada Senin (30/6/2025), menekankan dukungan penuh dari DPR RI karena proyek ini dinilai membawa nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Rosiade juga menyoroti pentingnya peran Antam dalam pertumbuhan industri nasional, yang diharapkan dapat mendorong perekonomian. “Langkah Antam menjadi hal yang penting dalam tonggak pertumbuhan industri nasional. Pertumbuhan industri yang mengedepankan peran BUMN jadi pendorong perekonomian nasional,” katanya.

Lebih lanjut, Rosiade menjelaskan bahwa pembangunan industri baterai yang terintegrasi, mulai dari tambang nikel hingga produksi sel baterai, akan menjadi titik balik bagi ketergantungan Indonesia pada energi fosil.

“Program hilirisasi ini sesuai dengan agenda pemerintahan pak Prabowo,” ungkapnya. Ia menambahkan, hilirisasi nikel menjadi baterai diharapkan menjadi pengubah permainan ekonomi Indonesia, yang tidak hanya berfokus pada ekspor bahan mentah, tetapi juga ekspor teknologi dan nilai tambah. “Ini harus terus dikawal karena menjadi pintu masuk penguatan industri mobil listrik nasional,” tegasnya.

Proyek ini, dengan investasi senilai US$ 5,9 miliar atau setara Rp96 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.278), diproyeksikan menjadi industri baterai EV terbesar di Asia Tenggara. Kapasitas produksi maksimalnya ditargetkan mencapai 15 Giga Watt hour (GWh) pada tahun 2028, dengan target produksi awal sebesar 6,9 GWh pada tahun 2026.