Agam – Sebuah kolaborasi antara Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sumatera Barat, dan Gerakan Pemuda Tani (Gempita) Korwil Sumbar membuahkan hasil menjanjikan dalam pengembangan pertanian organik. Panen padi bersama dilakukan di demplot padi organik, Dusun Halalang, Jorong Kambing VII, Nagari Gaduik, Kecamatan Tilatang Kamang, disaksikan oleh tokoh masyarakat dan warga setempat.
Asnal Zakri, Ketua KTNA Sumbar, mengamati pertumbuhan padi varietas kuruik kusuik yang menggunakan pupuk organik cair Herdanic. “Saya mengikuti pertumbuhannya sejak awal. Rata-rata tinggi tanaman mencapai 130 sentimeter, dengan jumlah anakan berkisar 60 hingga 70 per rumpun, dan malai yang lebih panjang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebernasan butir padi juga terlihat lebih baik, dan pihaknya sedang menunggu hasil uji sampel panen untuk mengukur potensi produktivitas. “Jika hasilnya baik, ini akan menjadi sebuah lompatan teknologi, karena kita menggunakan pembenah tanah yang dinilai lebih unggul dibanding jenis biasa,” katanya.
Optimisme serupa diungkapkan oleh Nurkhalis, Ketua Korwil Gempita Sumbar, yang memperkirakan potensi panen mencapai 7 ton per hektare. “Dengan 30 anakan saja biasanya menghasilkan 3 hingga 4 ton per hektare. Sekarang rata-rata di atas 60 anakan, jadi kita memperkirakan bisa mencapai sekitar 7 ton,” jelasnya. Ia berharap hasil panen ini dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan pertanian organik di Sumatera Barat. “Mudah-mudahan ke depan ini bisa menjadi model untuk peningkatan produksi pertanian,” tambahnya.
UIN Bukittinggi menyatakan komitmennya untuk mendukung program pemberdayaan masyarakat di sektor pertanian organik. Afrinaldi, Wakil Rektor I UIN Bukittinggi, menyatakan bahwa program ini merupakan terobosan yang akan ditindaklanjuti dengan penguatan program pemberdayaan masyarakat dan kajian riset berkelanjutan. “Ini merupakan terobosan dan akan kami tindaklanjuti dalam bentuk penguatan program pemberdayaan masyarakat. Ke depan juga akan diarahkan pada kajian riset berkelanjutan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa program ini sejalan dengan konsep ekoteologi, yaitu pemanfaatan sumber daya alam secara ramah lingkungan dengan basis nilai-nilai religius.
Iiz Izmuddin, Wakil Rektor II, menambahkan bahwa UIN Bukittinggi berencana membuka Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) untuk pengembangan ilmu dan inovasi, termasuk teknologi pertanian organik. Padi varietas kuruik kusuik yang dipanen pada Senin, 10 November 2025, menggunakan pupuk organik cair Herdanic, yang diproduksi di Agam, dan dipanen pada usia 128 hari, lebih cepat dari masa panen normal varietas tersebut. Herdanic diklaim sebagai pupuk cair hayati organik yang mengandung unsur hara makro-mikro dan bakteri pengurai untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesehatan tanaman, dan mendukung pertanian berkelanjutan.






