Padang – Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat membagikan strategi tata kelola organisasi kepada delegasi Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi. Pertukaran gagasan ini dilakukan untuk memperkuat struktur lembaga adat jelang pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) LAM Jambi mendatang.
Dalam kunjungan kerja yang berlangsung Rabu (15/7/2026) tersebut, rombongan LAM Jambi menyoroti keberhasilan LKAAM dalam mengintegrasikan organisasi hingga ke tingkat kecamatan. Pola ini dianggap sebagai referensi ideal untuk membenahi manajemen internal LAM Jambi.
“Kami ingin tahu bagaimana pengelolaan organisasi LKAAM dan sejauh mana dukungan dari pemerintah daerah terhadap kelembagaannya,” ujar pemimpin delegasi LAM Jambi, Syarahsaddin Laksamana Ario Jayodilago.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum 1 LKAAM Sumbar, Drs. Syafrizal Ucok, MM Dt. Nan Batuah, menjelaskan bahwa posisi kunci LKAAM adalah sebagai mitra strategis pemerintah. Sinergi ini terbukti efektif menjaga eksistensi lembaga adat dalam melestarikan nilai-nilai budaya.
Syafrizal mengakui bahwa dukungan nyata dari pemerintah daerah melalui APBD menjadi penentu utama keberlangsungan operasional organisasi di berbagai tingkatan wilayah. Namun, ia tidak menampik jika realisasi bantuan tersebut memiliki variasi di tiap daerah.
“Kelembagaan LKAAM di provinsi dan kabupaten/kota difasilitasi oleh Pemda sejak awal berdirinya. Memang harus diakui bahwa fasilitasi itu ada yang maksimal ada yang masih minimal,” ungkap mantan Wakil Bupati Pesisir Selatan itu.
Pertemuan selama dua jam tersebut juga mengulas teknis konsolidasi organisasi yang rutin digelar LKAAM setiap lima tahun sekali. Agenda kunjungan kemudian ditutup dengan pertukaran cindera mata sebagai simbol penguatan hubungan antarkelembagaan adat di kedua provinsi.






