Padang – Aksi teror bom rakitan yang dilakukan seorang siswa berinisial R (17) di MAN 3 Padang pada Selasa (14/7/2026) mengungkap sisi gelap perundungan di sekolah. Pelaku nekat melakukan tindakan berbahaya tersebut lantaran menyimpan dendam kesumat akibat kerap menjadi korban perundungan oleh teman sekelasnya.
Kapolresta Padang, Kombes Pol. Apri Wibowo, menyatakan bahwa pihaknya tengah mendalami motif tersebut secara intensif. Ia menyebutkan, berdasarkan keterangan awal, pelaku mengaku dendam karena sering dirundung oleh rekan-rekannya di sekolah.
“Berdasarkan pengakuan awal, aksi tersebut diduga dipicu oleh rasa dendam terhadap teman sekelas yang kerap melakukan perundungan,” ungkap Apri.
Dalam insiden yang terjadi pukul 10.15 WIB itu, R membawa empat unit bom rakitan berdaya ledak rendah. Satu bom sempat diledakkan pelaku menggunakan mancis di depan ruang kelas XII IPS 7, sementara sisanya berhasil diamankan Tim Gegana dari tas pelaku.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana, membenarkan bahwa pelaku adalah seorang pelajar. “Iya, pelajar. Inisial R (17),” kata Mayndra dalam keterangan resminya.
Kepada penyidik, R mengaku belajar merakit bahan peledak secara otodidak melalui internet dan YouTube. Ia bahkan bergabung dalam grup daring yang membahas perakitan bom dan terobsesi dengan aksi serupa yang pernah terjadi di SMA Negeri 72 Jakarta pada 2025 silam.
Pelaku diketahui membeli bahan peledak secara daring tanpa sepengetahuan orang tuanya. Polisi kini telah menyita sejumlah barang bukti berupa komponen peledak, senjata tajam jenis pisau, anak panah, dan telepon genggam milik pelaku.
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumbar, Adil Mubarak, menilai peristiwa ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. Menurutnya, perundungan yang dibiarkan tanpa penanganan serius dapat memicu akumulasi kemarahan yang berujung pada tindakan nekat.
“Bullying yang dibiarkan bisa berkembang menjadi akumulasi kemarahan. Kita imbau masyarakat tidak berspekulasi dan menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada pihak berwenang,” tegas Adil.
Saat ini, aparat kepolisian masih memeriksa sejumlah saksi dan menelusuri jejak digital pelaku. Penyidik fokus memastikan apakah terdapat pengaruh paham radikal atau keterlibatan pihak lain di balik aksi tersebut.






