Pekanbaru – Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kota Pekanbaru menggencarkan edukasi lingkungan di sekolah-sekolah sebagai wujud dukungan terhadap program Green City Pemerintah Kota Pekanbaru.
Langkah konkret ini diimplementasikan melalui pelatihan komposting berbasis sampah organik di SMPN 47 Pekanbaru, Selasa (23/12/2025).
Ketua Umum DMDI Kota Pekanbaru, H. Markarius Anwar, menyatakan bahwa pihaknya menggandeng Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru untuk mensosialisasikan penggunaan pupuk organik sejak dini.
“Program ini adalah bentuk dukungan nyata kami terhadap kebijakan Green City Pemerintah Kota Pekanbaru,” tegas Markarius.
Apalagi, lanjutnya, Pekanbaru akan menjadi tuan rumah pertemuan Indonesia–Malaysia–Thailand yang melibatkan 32 kota yang telah menerapkan konsep kota hijau pada Juni 2026 mendatang.
DMDI memandang pentingnya edukasi lingkungan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Sekolah menjadi titik awal gerakan ini, mengingat mayoritas pengurus dan anggota DMDI berasal dari kalangan pendidik.
Fokus utama DMDI adalah pengembangan program Green School, termasuk pelatihan komposting yang diikuti sekitar 50 kepala sekolah tingkat SMP.
Para peserta diharapkan dapat menerapkan hasil pelatihan di sekolah masing-masing bersama guru dan siswa.
“Program Green School mencakup edukasi komposting, pemilahan sampah, serta daur ulang limbah menjadi bahan yang memiliki nilai guna kembali,” jelas Markarius yang juga menjabat sebagai Wakil Wali Kota Pekanbaru.
Program komposting DMDI juga akan diperluas ke pondok pesantren yang memiliki lahan luas, dengan memberikan pendampingan, pelatihan, hingga bantuan bibit tanaman.
Kepala SMPN 47 Pekanbaru, Agus Warsita, menjelaskan bahwa kegiatan ini berfokus pada pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai guna, seperti pupuk organik cair dan padat.
“Melalui pengolahan sampah organik ini, kita tidak hanya mengurangi beban sampah, tetapi juga menghasilkan pupuk yang sangat bermanfaat untuk tanaman,” ujar Agus.
Agus menambahkan, jika setiap sekolah di Pekanbaru menjalankan program serupa, potensi eliminasi sampah mencapai 750 ton per bulan dan diubah menjadi pupuk organik.
Lahan di SMPN 47 Pekanbaru bahkan mampu diaplikasikan dengan pupuk organik setara kebutuhan 100 kaleng cat berukuran 25 kilogram.
“Jika produksi pupuk kami berlebih, maka akan kami salurkan melalui DMDI untuk disumbangkan kepada kegiatan lingkungan dan kebutuhan masyarakat,” jelas Agus.
Program ini juga menanamkan nilai kepedulian lingkungan kepada siswa sejak dini, salah satunya dengan mengajak siswa mengumpulkan limbah air beras dari rumah untuk diolah menjadi pupuk cair.
“Anak-anak kami ajarkan bahwa hal kecil di rumah, seperti air beras, ternyata bisa memberi manfaat besar bagi lingkungan,” tutup Agus.





