Jakarta – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh telah memicu respons dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat dan tokoh masyarakat. Ribuan rumah dilaporkan rusak, puluhan ribu warga mengungsi, dan ratusan jiwa melayang akibat musibah tersebut.
Di tengah suasana duka, seruan untuk menghentikan saling menyalahkan dan fokus pada upaya bantuan muncul dari berbagai kalangan. Anton Permana, tokoh nasional asal Sumatera Barat, menekankan pentingnya solidaritas dan dukungan bagi para korban. “Sekarang saatnya saling membantu, memupuk solidaritas, rasa tolong menolong dan peduli dengan saudara kita yang tertimpa musibah,” ujarnya.
Anton juga mengapresiasi respons cepat pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Pertahanan, dan Panglima TNI, yang telah memberikan bantuan langsung ke wilayah terdampak. “Lihat Bapak Presiden Prabowo Subianto, Kemenhan, Menteri Kabinet Merah Putih, Panglima TNI berserta jajarannya yang langsung turun ke kampung kita Ranah Minang membawa ratusan ton bantuan,” katanya.
Terkait pernyataan awal Kepala BNPB, Suharyanto, yang sempat menimbulkan polemik, Anton Permana menilai permintaan maaf yang disampaikan kemudian sebagai sikap yang patut diapresiasi. “Permintaan maaf jendral bintang tiga ini disampaikan secara jantan dan terbuka kepada masyarakat dan media,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Anton Permana menyoroti isu pembalakan liar sebagai salah satu faktor penyebab bencana. Ia mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menindak tegas para pelaku penebangan hutan ilegal. “Para penebang hutan ini harus diburu, karena ini adalah momentum yang tepat memberikan efek jera kepada mereka,” tegasnya pada Senin (1/12/2025). Ia menambahkan bahwa masyarakat akan mendukung penuh langkah pemerintah dan aparat hukum dalam menjerat pelaku pembalakan liar.






