Padang – Di tengah gelombang demonstrasi nasional yang dipicu oleh isu kenaikan tunjangan anggota DPR dan insiden tewasnya seorang pengemudi ojek online, Sumatera Barat menunjukkan respons yang berbeda. Alih-alih anarki, masyarakat Minangkabau memilih jalur dialog dan musyawarah untuk menyampaikan aspirasi.
Gelombang keresahan nasional, yang dipicu oleh keputusan kontroversial terkait tunjangan anggota DPR dan diperparah dengan meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun, dalam aksi demonstrasi di Jakarta, turut dirasakan di Sumatera Barat. “Kita belajar, kita melihat, kita mendengar,” demikian gambaran situasi yang berkembang.
Namun, respons masyarakat Minangkabau terhadap isu-isu nasional ini mengambil bentuk yang unik. Pada Jumat sore, 29 Agustus 2025, ribuan orang berkumpul di depan Mapolda Sumbar untuk menyampaikan tuntutan pengusutan tuntas kematian Affan. Kapolda Gatot Tri Suryanta menemui massa, menyampaikan permohonan maaf, dan mengajak masyarakat untuk melaksanakan salat gaib bersama.
Aksi damai ini kemudian berlanjut dengan seruan untuk menyampaikan aspirasi di Gedung DPRD Sumbar pada Senin, 1 September 2025. Pemerintah Kota Padang bahkan mengambil kebijakan meliburkan sekolah sebagai langkah antisipasi.
Namun, kekhawatiran akan potensi kericuhan tidak terbukti. Massa mahasiswa dari berbagai kampus hadir dengan tertib, menyampaikan orasi yang terarah, dan menyuarakan semangat perubahan tanpa amarah. “Inilah wajah Minangkabau: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” demikian ungkapan yang menggambarkan nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh masyarakat Minangkabau.
Ketua DPRD Sumbar Muhidi bersama jajaran wakilnya, Nanda Satria, Evi Yandri, Iqra Chissa, dan anggota lainnya, menerima aspirasi mahasiswa dengan tangan terbuka. Dialog hangat pun terjalin, menggantikan ketegangan yang sempat mengkhawatirkan.
Momen ini menjadi bukti bahwa masyarakat Minangkabau tidak mudah terprovokasi. Mereka memilih jalur yang cerdas, bermoral, dan berbudaya untuk menyampaikan aspirasi, tanpa mengorbankan keutuhan negeri. “Orang Minang bukan mudah dihasut atau diadu domba,” ditegaskan dalam laporan tersebut.
Dari Sumatera Barat, pesan damai dan persatuan ini menggema. “Jayalah negeriku, bangkitlah Indonesia,” seruan ini menjadi penutup dari aksi damai yang menunjukkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kedamaian. “Sumbar telah menunjukkan bahwa damai adalah kekuatan sejati,” pungkasnya.






