PGSD UNP Gelar Etno Learning, Perkuat Kompetensi Calon Guru

oleh -116 Dilihat
penguatan-kompetensi-calon-guru,-pgsd-fip-unp-gelar-etno-learning-ke-jakarta-dan-bandung
Penguatan Kompetensi Calon Guru, PGSD FIP UNP Gelar Etno Learning ke Jakarta dan Bandung

Padang – Departemen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang (FIP UNP) menggelar program Etno Learning ke Jakarta dan Bandung, yang bertujuan untuk memperkaya wawasan calon guru. Kegiatan yang berlangsung pada 18-24 Oktober 2025 ini, melibatkan ratusan mahasiswa dan tenaga pengajar.

Sebanyak 407 mahasiswa PGSD UNP, didampingi oleh 16 dosen dan dua tenaga penanggung jawab kependidikan, mengikuti program yang dirancang sebagai bagian dari perkuliahan Evaluasi Pembelajaran SD Berbasis Digital. Program ini juga melibatkan Kepala Departemen PGSD, Muhammadi, selaku Kepala Rombongan, dan Yeni Erita, sebagai Sekretaris Rombongan.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami penerapan evaluasi pembelajaran di satuan pendidikan yang telah menerapkan standar internasional dan pendidikan berbasis budaya. Mahasiswa diharapkan dapat mengamati penggunaan instrumen evaluasi formatif dan sumatif berbasis teknologi, mempelajari perancangan rubrik digital, e-portofolio, hingga asesmen autentik.

Selain itu, program ini bertujuan untuk mendorong mahasiswa untuk mampu membandingkan praktik evaluasi di sekolah reguler dengan sekolah internasional serta sekolah berbasis etnopedagogi. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap reflektif dan profesional dalam penyusunan evaluasi pembelajaran berkelanjutan.

Manfaat dari kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap praktik evaluasi digital yang nyata, serta keterampilan menggunakan berbagai platform asesmen seperti Google Classroom, Moodle, Kahoot, Quizizz, dan sistem penilaian internal sekolah. Mahasiswa juga diharapkan mendapatkan pengalaman menyusun instrumen penilaian yang menilai kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta karakter.

Selama di Jakarta, mahasiswa melakukan observasi ke sejumlah sekolah internasional yang telah menerapkan kurikulum global dan pembelajaran berbasis teknologi. Sekolah-sekolah yang dikunjungi antara lain ACG School Jakarta, Australia Independent School, BINUS School Simprug, British School, Mentari Intercultural School, Sampoerna Academy, Singapore Intercultural School, Jakarta Intercultural School, North Jakarta Intercultural School, serta Knowledge Link Intercultural School di Sentul.

Pada tahap ini, mahasiswa mengamati secara langsung bagaimana ruang kelas dikelola dengan pendekatan kolaboratif, diferensiasi pembelajaran, dan integrasi teknologi sebagai bagian dari proses belajar.

Rombongan kemudian melanjutkan studi ke Bandung untuk mempelajari sekolah dengan orientasi pendidikan karakter, bilingual, dan boarding. Sekolah yang dikunjungi mencakup Global Prestasi School, Al Irsyad Satya Islamic School, Al-Lathif Islamic School, Pribadi Bilingual Boarding School, Cendekia Leadership School, Edu Global School, Bandung Alliance Intercultural School, Temasek Bandung, Bina Bangsa School Bandung, dan Bandung Independent School.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa dapat membandingkan bagaimana kultur sekolah mempengaruhi iklim kelas, pola interaksi guru-siswa, serta nilai-nilai yang dibangun lewat kebiasaan belajar sehari hari.

Selain observasi sekolah, rombongan juga melakukan pertemuan akademik dengan PGSD UPI Kampus Bumi Siliwangi dan PGSD UPI Kampus Cibiru, membahas pengembangan kurikulum, implementasi pembelajaran digital, dan peluang kerja sama praktik lapangan serta penelitian mahasiswa. Kegiatan ini ditutup dengan pembelajaran berbasis lingkungan di Floating Market Lembang.

Yanti Fitria menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan strategi pengayaan pengetahuan sekaligus pembentukan karakter calon guru. Muhammadi memastikan kegiatan berjalan tertib dan efektif sesuai rencana akademik. Sementara itu, Yeni Erita berperan dalam memastikan penyusunan hasil observasi mahasiswa terdokumentasi sebagai bagian dari penilaian mata kuliah.

Adrias, salah satu dosen pendamping, menilai kegiatan ini memberikan pemahaman yang lebih utuh dibandingkan pembelajaran teoritis. “Mahasiswa melihat bagaimana guru mengelola dinamika kelas secara langsung. Itu pengalaman yang tidak dapat digantikan,” ujarnya.

Farhatun Haya, salah seorang mahasiswa peserta, menyampaikan bahwa pengalaman ini memperdalam pemahamannya tentang peran guru.

Iyus Nurbaeti Yusup, Kepala Sekolah SD Binekas Bandung, mengapresiasi sikap mahasiswa yang aktif berdiskusi dan belajar.