Jakarta – Anggota DPR RI, Nevi Zuairina, menekankan pentingnya proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai fondasi hilirisasi industri aluminium nasional. Proyek ini jangan hanya menjadi sekadar pengolahan bahan mentah.
Hal ini disampaikan Nevi saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI ke Pontianak, Februari 2026. Kunjungan tersebut membahas operasional smelter alumina dan penguatan ekosistem industri tambang nasional.
Nevi Zuairina, politisi PKS, menilai keberhasilan SGAR harus diukur dari kemampuannya mendorong industri turunan aluminium di dalam negeri. Bukan hanya dari volume produksi alumina.
“Indonesia telah memasuki fase penting transformasi dari negara pengekspor bahan mentah menuju negara industri bernilai tambah tinggi,” tegas Nevi.
Sinergi antara BP BUMN, Antam, Inalum, PT Borneo Alumina Indonesia, dan pengelola kawasan industri menjadi krusial. Tujuannya agar hilirisasi berjalan terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Nevi menekankan perlunya sinkronisasi pendanaan antar fase proyek. Selain itu, penguatan ketahanan pasokan bahan baku, serta prioritas kebutuhan domestik sebelum ekspor juga penting.
“Strategi mitigasi risiko terhadap fluktuasi harga alumina global sangat penting,” ujar Nevi. Hal ini bertujuan agar keberlanjutan proyek tetap terjaga secara finansial.
Nevi juga menyoroti aspek energi. Ia menilai keberlangsungan industri alumina dan aluminium sangat bergantung pada jaminan ketersediaan listrik yang stabil 24 jam. Tarif listrik juga harus kompetitif.
“Ketika industri sudah berjalan, listrik tidak boleh menjadi titik lemah,” katanya.
Pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, terutama terkait limbah red mud, juga menjadi perhatian. Nevi mendorong percepatan transfer teknologi agar tenaga kerja Indonesia mampu menjadi operator utama.
Kalimantan Barat memiliki peluang besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Caranya melalui pengembangan kawasan industri aluminium terpadu yang melibatkan UMKM dan tenaga kerja lokal.
Nevi mengajak semua pihak menjadikan proyek SGAR sebagai momentum besar bagi kemandirian industri nasional.
“Kita tidak boleh berhenti di alumina. Target akhirnya adalah industri aluminium nasional yang kuat, mandiri, dan mampu menjadi bagian dari rantai pasok global,” pungkasnya.






