Lestarikan Surau: Jaga Pendidikan Islam Minangkabau dari Modernisasi

oleh -197 Dilihat
revitalisasi-surau:-pendidikan-islam-tradisional-minangkabau-dalam-bayang-bayang-modernisasi
Revitalisasi Surau: Pendidikan Islam Tradisional Minangkabau dalam Bayang-Bayang Modernisasi

Padang – Surau, bangunan tradisional Minangkabau, mengalami revitalisasi di tengah arus modernisasi. Surau yang dulunya merupakan pusat pendidikan dan sosial, kini berupaya dihidupkan kembali fungsinya di era kontemporer.

Menurut Muhammad Zaid Iqbal, mahasiswa doktoral Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi, surau di Minangkabau umumnya berupa bangunan sederhana yang terletak di dekat pemukiman masyarakat, sering kali dekat dengan sumber air. “Setiap suku atau kaum di Minangkabau umumnya memiliki suraunya sendiri,” ujarnya. Keberadaan surau telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Minangkabau bahkan sebelum kedatangan Islam.

Pada masa pra-Islam hingga setelah Islam masuk, surau berperan penting sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan keterampilan. Selain itu, surau juga berfungsi sebagai tempat singgah bagi musafir dan pedagang. “Kehadiran mereka memungkinkan para pemuda yang tinggal di surau untuk mendapatkan informasi tentang dunia luar dan gambaran kehidupan di perantauan,” jelasnya. Dengan begitu, surau menjadi tempat multifungsi, tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga sebagai tempat tinggal dan pusat interaksi sosial bagi pemuda.

Para pelajar di surau disebut “orang siak,” sementara ulama yang menjadi pemimpin dan pengajar agama dikenal sebagai Syekh. Pendidikan di surau tidak memerlukan pembayaran. “Orang siak sangat jarang memberikan uang kepada Syekh. Jika pun ada, pemberian tersebut biasanya datang dari keluarga mereka sebagai bentuk rasa terima kasih atas dasar keikhlasan,” ungkapnya. Kebutuhan hidup para orang siak umumnya dipenuhi oleh masyarakat sekitar surau yang menyumbangkan bahan makanan.

Syekh, sebagai pemimpin surau, tidak memiliki pekerjaan lain selain mengajar agama. Kebutuhan hidup keluarganya dipenuhi melalui sumbangan dan sedekah dari masyarakat. Dukungan ini sering kali lebih dari cukup, sehingga seorang Syekh mampu menunaikan ibadah haji. Berdasarkan uraian tersebut, surau memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai lembaga sosial dan lembaga pendidikan.

Pengajaran di surau menggunakan sistem pendidikan halaqah. Kurikulum awal berfokus pada membaca Al-Qur’an dan penguasaan huruf hijaiyah. “Pelajaran ini biasanya hanya diberikan pada malam hari,” kata Iqbal. Ada dua bentuk pengajaran di surau, yakni pengajaran Al-Qur’an awal dan pelajaran lanjutan yang lebih mendalam. Pengajaran Al-Qur’an menggunakan sistem halaqah, mengenalkan ejaan huruf hijaiyah dan cara membaca Al-Qur’an. Selain itu, mereka juga belajar tata cara ibadah dan pelajaran dasar tauhid. Anak-anak mengikuti pembelajaran di surau pada malam hari, dan sesi tambahan dilakukan setelah shalat Subuh.

Pada tingkat lanjutan, pendidikan di surau mencakup pelajaran tambahan yang lebih mendalam, seperti membaca Al-Qur’an dengan irama (tilawah/mujawad), seni lagu qasidah, barzanji, tajwid, serta pengajian kitab perukunan. Pada tingkat ini, terdapat seorang guru ahli yang disebut Qori, yang terkenal karena keahliannya dalam melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an secara tepat dengan suara yang indah.

Tujuan pendidikan surau adalah untuk mengajarkan murid-muridnya cara membaca Al-Qur’an dengan lancar dan berirama. “Dalam hal ini, pendidikan surau terbatas pada mengajarkan anak-anak cara membaca Al-Qur’an dengan tepat dan benar,” jelasnya. Setelah anak-anak mengenal huruf dan bentuk-bentuk harkat, mereka diajarkan membaca juz ‘Amma, lalu membaca Al-Qur’an pada mushaf hingga khatam.

Iqbal menjelaskan bahwa revitalisasi surau dapat dipahami sebagai bentuk perubahan atau transformasi yang mengandung proses penguatan, baik terhadap aspek-aspek yang selama ini dimiliki maupun dengan melakukan pengembangan menuju keadaan yang lebih baik dan lebih maju dari kondisi sebelumnya. “Perkembangan zaman pasti mengalami kemajuan dan perkembangan, baik dari berkembanganya teknologi, ilmu pengetahuan, seni, arsitektur, metodologi dan pendekatan dalam penelitian serta lain sebagainya,” ujarnya.

Meskipun era modern telah berlalu, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan terus berlanjut. Namun, di balik kemajuan tersebut, banyak hal yang mulai ditinggalkan dan mengalami kemerosotan, salah satunya adalah surau. “Surau secara bangunannya masih ada dan eksis, namun banyak yang tidak berfungsi lagi dan dialihkan kepada pembangunan bangunan baru seperti Mushalla dan Mesjid,” ungkapnya. Akan tetapi, masih ada beberapa surau yang sampai saat ini masih digunakan dengan sedikit renovasi namun tetap mempertahankan bentuk aslinya.

Walaupun secara bangunannya banyak yang tidak digunakan lagi, pendidikan Islamnya saat ini masih eksis dan tetap dijalankan. Pendidikan saat ini dilakukan di lingkungan sekolah, namun pendidikan Islam tetap ada yang dilakukan di Mesjid. “Revitalisasi pendidikan Surau dimaksudkan adalah dengan tetap menghidupkan pendidikan Islam di lingkungan diluar sekolah seperti Mesjid dan Mushalla,” pungkasnya. Pendidikan Islam yang diajarkan juga ditanamkan nilai-nilai ajaran seperti yang ada pada Surau pada zaman dulu, dengan menjadikan Mesjid atau Mushalla sebagai pusat pendidikan Islam, pengembangan kemampuan, tempat berkumpul masyarakat, dan pusat kegiatan masyarakat.