Padang – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat menyatakan kesiapannya untuk mendukung upaya mitigasi bencana di Kota Padang, khususnya terkait ancaman gempa bumi dan tsunami. Dukungan ini diwujudkan dengan menjadikan gedung DPRD sebagai salah satu lokasi evakuasi sementara bagi masyarakat.
Sekretaris DPRD Provinsi Sumatera Barat, Maifrizon, menyampaikan bahwa gedung DPRD memiliki kriteria yang memadai untuk dijadikan tempat berlindung yang aman bagi warga. “Gedung DPRD ini ramah gempa. Halamannya luas yang bisa dimanfaatkan untuk tempat menyelematkan diri saat gempa dan tsunami terjadi,” ujarnya saat meninjau simulasi gempa dan tsunami di gedung DPRD Sumbar.
Apresiasi atas dukungan tersebut disampaikan oleh Elfin, perwakilan dari Komunitas Siaga Bencana (KSB) Ulakkarang Utara. Ia mengungkapkan rasa terima kasih atas fasilitas yang diberikan oleh Sekretariat DPRD Sumbar selama kegiatan simulasi. “Kita diterima dengan baik dan kita difasilitasi apa yang diperlukan, seperti pengeras suara diberikan, pagar dibuka dan pintu juga dibuka,” katanya.
Elfin menambahkan, pemilihan gedung DPRD sebagai lokasi evakuasi didasarkan pada pertimbangan teknis yang matang. “Ketinggian dan kekuatan bangunan DPRD Sumbar sudah memenuhi persyaratan. Halamannya memadai karena sangat luas,” jelasnya.
Simulasi penanggulangan gempa dan tsunami yang digelar Pemerintah Kota Padang melibatkan sekitar 200 ribu warga dari 55 kelurahan di delapan kecamatan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, petugas, serta fasilitas kesehatan dalam menghadapi potensi bencana.
Menurut data kajian risiko bencana Kota Padang tahun 2023, seluruh kelurahan yang terlibat dalam simulasi berada di wilayah pesisir pantai dan berisiko terdampak gempa dan tsunami. Delapan kecamatan tersebut meliputi Bungus Teluk Kabung, Koto Tangah, Nanggalo, Padang Barat, Padang Selatan, Padang Timur, dan Padang Utara.
Peserta simulasi terdiri dari berbagai elemen masyarakat, termasuk siswa sekolah dari berbagai tingkatan, mahasiswa, karyawan hotel, rumah sakit, perusahaan swasta, serta pedagang pasar.
Simulasi ini menekankan pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengenali tanda-tanda gempa berpotensi tsunami, melakukan evakuasi mandiri, mengikuti arahan evakuasi, serta berkoordinasi dengan petugas di lapangan.
Pada pukul 10.00 WIB, sirene dibunyikan sebagai tanda peringatan gempa dan tsunami. Petugas kemudian mengarahkan warga untuk segera menuju tempat evakuasi yang telah ditentukan dalam waktu 20-30 menit.






