Warga Gembok SMAN 5 Bukittinggi, Protes Siswa Tidak Lulus

oleh -206 Dilihat
kecewa-anaknya-tidak-diterima-warga-gembok-sman-5-bukittinggi
Kecewa Anaknya Tidak Diterima Warga Gembok SMAN 5 Bukittinggi

Bukittinggi – Aksi protes mewarnai hari pertama masuk sekolah di SMAN 5 Bukittinggi, Senin (14/07), setelah warga setempat melakukan penyegelan terhadap gerbang sekolah. Tindakan ini dipicu oleh kekecewaan atas banyaknya calon siswa yang tidak lolos seleksi penerimaan.

Akibat penyegelan tersebut, aktivitas belajar mengajar terhambat, dan para siswa serta guru tidak dapat memasuki area sekolah. Padahal, hari itu seharusnya menjadi hari pertama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa kelas X tahun pelajaran 2025/2026.

Para siswa dan guru tampak kebingungan akibat aksi tersebut. Salah seorang pengurus Parik Pagak Rang Kurai Bukittinggi, Sutan Rajo Bujang, menyampaikan bahwa aksi ini dilakukan sebagai bentuk tuntutan atas hak pendidikan warga. “Kami minta hak karena tanggung jawab pendidikan adalah tugas pemerintah,” ujarnya. Ia menambahkan, warga berharap agar anak-anak mereka dapat diterima di SMAN 5 Bukittinggi. “Kami mohon apa pun sistem yang digunakan dalam penerimaan murid baru, jangan mempersulit anak masuk sekolah di Bukittinggi,” tegasnya.

Sutan Rajo Bujang juga mengungkapkan bahwa setidaknya ada 35 anak yang berada di zona SMAN 5 Bukittinggi tidak lulus seleksi. Ia berharap pihak dinas terkait dapat mencari solusi terbaik agar suasana di kampung kembali harmonis.

Aksi serupa pernah terjadi pada tahun 2017, dan Dinas Pendidikan setempat mengambil kebijakan untuk menerima anak-anak yang berdomisili di Kelurahan Garegeh dan Koto Selayan. Sutan Rajo Bujang menjelaskan bahwa lokasi pendirian SMAN 5 Bukittinggi merupakan tanah ulayat yang diberikan oleh masyarakat melalui tokoh adat setempat. Kesepakatan awal pembangunan sekolah di era Walikota Djufri adalah memberikan prioritas kepada anak-anak tamatan SLTP dari Kelurahan Koto Selayan dan sekitarnya.

Menurut Sutan Rajo Bujang, total ada 177 warga Bukittinggi yang tidak diterima di lima SMAN yang ada. Ia mengancam bahwa jika tidak ada solusi, Parik Paga Nagari Kurai, Ninik Mamak, serta Anak Nagari Kurai akan menutup seluruh SMAN di Kota Bukittinggi.

Upaya konfirmasi kepada Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I, Hj. Willia Zuherni, terkait peristiwa ini belum membuahkan hasil. Hingga berita ini diturunkan, belum ada jawaban atau informasi yang disampaikan baik oleh Kepala SMAN 5 Bukittinggi maupun dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Sumbar.