Jakarta – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menerima penghargaan sebagai Pemerintah Daerah Terbaik Tingkat Provinsi dalam Festival Perhutanan Sosial Nasional (PeSoNa) 2025. Penghargaan ini diberikan atas upaya berkelanjutan dalam mendorong program perhutanan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Acara puncak Festival PeSoNa 2025 berlangsung di Auditorium Gedung Manggala Wanabakti, di mana Wakil Menteri Kehutanan, Sulaiman Umar Siddiq, menyerahkan langsung penghargaan kepada Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah.
Mahyeldi menyampaikan rasa syukur atas penghargaan tersebut, mengakui bahwa pencapaian ini adalah hasil kolaborasi. “Alhamdulillah, ini hasil kerja bersama,” ujarnya, seraya menambahkan, “Ke depan, kita tetap berkomitmen mendorong perhutanan sosial dan pengelolaan hutan agar tetap terjaga.”
Penghargaan ini diberikan berdasarkan sejumlah kriteria, termasuk keberadaan Perda Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perhutanan Sosial, dukungan sarana dan prasarana yang memadai, alokasi anggaran dari berbagai sumber, penyediaan personel khusus, pembentukan Pokja Percepatan Perhutanan Sosial, penerapan IAD berbasis PS, perolehan penghargaan nasional terkait perhutanan sosial sebelumnya, serta kerjasama dengan berbagai pihak dalam fasilitasi KPS dan KUPS.
Dalam sambutannya, Sulaiman Umar Siddiq menekankan semangat Festival PeSoNa 2025, yaitu “Merawat Hutan, Mewariskan Harapan.” Ia menyatakan, “Hutan bukan sekadar warisan, tapi titipan untuk generasi mendatang. Kita harus pastikan hutan tetap lestari, masyarakat sejahtera, dan Indonesia berdaulat atas sumber daya alamnya.”
Ia juga menyoroti perhutanan sosial sebagai jalan menuju kemandirian bangsa melalui Proyek Strategis Nasional: Ketahanan Pangan dan Energi Berbasis Masyarakat. Akses kelola perhutanan sosial telah mencapai lebih dari 8,3 juta hektar dengan 1,4 juta kepala keluarga penerima manfaat serta terbentuknya 15.758 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).
KUPS telah menghasilkan berbagai komoditas, termasuk jagung, padi, buah-buahan, kopi, madu hutan, kakao, dan kemiri, serta mengembangkan ekowisata. Diharapkan masyarakat sekitar hutan tidak hanya menjadi penjaga hutan, tetapi juga pelaku utama ekonomi hijau.
Program perhutanan sosial juga mendukung Asta Cita ke-2 tentang swasembada pangan, energi, air, serta penguatan ekonomi hijau dan biru, dan Asta Cita ke-8 tentang pembangunan daerah dan desa untuk mengurangi kesenjangan.
Sulaiman mengajak semua pihak untuk terus memperkuat perhutanan sosial. “Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi tertinggi atas kerja keras semua pihak. Semoga menjadi pemacu semangat untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat sekaligus kelestarian hutan di Indonesia,” pungkasnya.
Festival PeSoNa 2025 menjadi momentum untuk mempertegas tekad bersama bahwa hutan Indonesia adalah sumber kehidupan, kesejahteraan, dan harapan untuk masa depan.






