Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) resmi mengambil alih tanggung jawab pengelolaan aset Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh dari Danantara. Proses transisi ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada pertengahan September 2026.
Langkah ini diambil pemerintah untuk memperkuat optimalisasi aset melalui skema Special Mission Vehicle (SMV). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, skema ini dipilih agar pendanaan proyek tidak membebani APBN secara langsung.
“Pembahasan yang pertama adalah terkait Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung. Proyek ini akan diserahkan dari Danantara kepada Menteri Keuangan. Prosesnya akan dipercepat. Mungkin pada pertengahan September semuanya sudah selesai atau sudah clear,” ujar Purbaya, Rabu (5/8/2026).
Peralihan ini mencakup 60 persen saham operator KCIC yang saat ini dikuasai konsorsium BUMN, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Nantinya, porsi saham tersebut akan dipindahkan ke bawah naungan SMV Kemenkeu.
“Mengenai PSBI, ada pihak yang akan menyerahkan sahamnya kepada kami. Kepemilikan saham yang dimaksud sekitar 60 persen. Sebanyak 60 persen saham tersebut akan diserahkan kepada kita,” jelasnya.
Meski nilai proyek mencapai 7,26 miliar dolar AS, pemerintah menjamin operasional dan pemeliharaan tetap terjaga. Pihaknya memastikan pendanaan akan disalurkan secara terukur demi keberlangsungan layanan transportasi tersebut.
Di sisi lain, peluang ekspansi proyek ini ke wilayah Jawa Timur mulai dijajaki. Purbaya mengungkapkan, mitra dari Tiongkok telah menyatakan komitmen kuat untuk melanjutkan kerja sama strategis ini.
“Kami juga sudah berbicara dengan pihak Tiongkok. Sepertinya mereka masih ingin melanjutkan proyek ini. Bahkan jika memungkinkan, proyek kereta cepat tersebut akan diperpanjang hingga Jawa Timur,” pungkas Purbaya.






