Padang – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menginstruksikan jajaran terkait untuk memaksimalkan pendanaan melalui dana CSR dan Baznas guna menekan angka kematian akibat kanker. Langkah ini diambil menyusul masih rendahnya cakupan skrining kesehatan di daerah tersebut yang baru mencapai 38 persen.
Instruksi tersebut disampaikan Mahyeldi saat membuka Simposium Awam Kanker 2026 di Hotel Truntum, Padang, Sabtu (11/7). Menurutnya, penguatan pendanaan sangat krusial untuk mengoptimalkan operasional di 78 rumah sakit dan 250 puskesmas yang tersebar di Sumatera Barat.
“Saya perintahkan seluruh pemangku kepentingan segera mengidentifikasi kendala di lapangan agar cakupan layanan kesehatan gratis ini bisa digenjot,” tegas Mahyeldi.
Gubernur juga meminta Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat segera merumuskan kebijakan strategis sebagai payung regulasi. Harapannya, infrastruktur kesehatan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk deteksi dini yang lebih masif.
Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Padang, Dr. dr. Dovy Djanas, menyambut baik arahan tersebut. Ia menekankan bahwa edukasi deteksi dini merupakan kunci utama dalam transformasi layanan kesehatan nasional.
“Deteksi dan penanganan yang tepat akan menjamin penyintas kanker tetap hidup produktif dan berkualitas,” ujar Dovy.
Sementara itu, Ketua Panitia Simposium, Dr. Dolly Nurdin Lubis, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyatukan sinergi antara pemerintah, rumah sakit, dan organisasi profesi. Kolaborasi ini diwujudkan melalui rangkaian kegiatan edukasi masyarakat, pelatihan dokter spesialis, hingga seminar manajemen kesehatan bagi bidan.
Seluruh rangkaian simposium tersebut diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun sistem penanggulangan kanker yang terpadu di Sumatera Barat.






