Padang – Banjir yang kembali merendam Kota Padang pada 10 Oktober 2026 menegaskan urgensi penanganan bencana berbasis daerah aliran sungai secara menyeluruh.
Pakar Ilmu Tanah dari Universitas Andalas, Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, M.Sc., menyoroti keterkaitan antara kondisi pegunungan, karakteristik tanah, dan dinamika sedimen terhadap risiko banjir di kawasan permukiman.
Kajian tersebut dipublikasikan secara resmi melalui laman Universitas Andalas pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Dian menyoroti ancaman serius yang menerjang Perumahan Lumin Park di Lubuk Minturun serta Kampung Guo di Kecamatan Kuranji.
Kawasan Lumin Park bahkan sempat mengalami banjir serupa pada 26–27 November 2025 dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter.
“Ancaman banjir di Padang bukan hanya persoalan hujan lebat, tetapi juga berkaitan dengan kondisi pegunungan, jaringan sungai, karakteristik tanah, dan dinamika sedimen,” ujar Dian dalam kajiannya.
Analisis menggunakan Digital Elevation Model Nasional menunjukkan bahwa sekitar 48,84 persen wilayah daratan Kota Padang memiliki kemiringan lereng lebih dari 15 derajat.
Kondisi geografis dengan lereng curam tersebut berpotensi mempercepat konsentrasi aliran air menuju lembah saat hujan lebat terjadi.
Perumahan Lumin Park berada di wilayah landai dengan elevasi 36,1 meter, sedangkan Kampung Guo terletak pada elevasi 22,7 meter.
Meski berada di dataran landai, kedua lokasi tersebut tetap berisiko tinggi karena terhubung langsung dengan sistem jaringan sungai di sekitarnya.
Peneliti menemukan material sedimen kasar di sekitar alur sungai Lumin Park yang diduga terbawa arus dari kawasan hulu.
Akumulasi sedimen tersebut berpotensi mengurangi kapasitas sungai dan memicu luapan air saat debit sungai meningkat.
Dian menekankan perlunya penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara kerusakan lingkungan di hulu dengan respons hidrologi daerah aliran sungai.
Pemerintah daerah didorong untuk memperkuat sistem peringatan dini berbasis curah hujan dan tinggi muka air sungai.
Penataan ruang di kawasan hilir harus mempertimbangkan karakteristik dataran banjir untuk meminimalisasi dampak kerusakan.
“Banjir mungkin tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi kerusakan dan korban akibat banjir bukan sesuatu yang harus terus berulang tanpa upaya pencegahan,” tegas Dian.
Pengurangan risiko banjir yang berkelanjutan menuntut integrasi antara pengelolaan daerah aliran sungai, penataan ruang, serta kesiapsiagaan masyarakat.






