Agam – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berupaya mengoptimalkan Nagari Creative Hub (NCH) sebagai pusat pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif. Komitmen ini diperkuat melalui perhelatan seni budaya di Medan Nan Bapaneh, Nagari Koto Tangah, Kabupaten Agam, Sabtu (26/9/2026).
NCH didorong untuk bertransformasi menjadi inkubator yang mengasah daya saing generasi muda. “Kita ingin NCH menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda. Tidak hanya dari segi budaya dan seni tradisi, tetapi juga ekonomi,” ujar Asisten Pemerintahan dan Kesra Setdaprov Sumbar, Ahmad Zakri, saat membuka acara.
Zakri menekankan bahwa kekayaan kuliner, kerajinan, hingga pengetahuan tradisional di nagari merupakan modal ekonomi tangguh jika dikelola berkelanjutan. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan pelaku ekonomi kreatif.
NCH merupakan agenda prioritas di bawah kepemimpinan Gubernur Mahyeldi dan Wakil Gubernur Vasko Ruseimy. Sejak tahun lalu, tiga belas daerah telah ditetapkan sebagai lokus pengembangan program ini.
Pemerintah Kabupaten Agam mendukung penuh inisiatif tersebut dengan alokasi pendanaan. “Setiap masjid mendapatkan alokasi anggaran pembinaan sebesar Rp15 juta dari APBD Kabupaten Agam yang telah berjalan sejak 2025,” ungkap Asisten Pemerintahan Setdakab Agam, Yunelson.
Yunelson menambahkan, pihaknya telah menetapkan 32 masjid sebagai pusat kegiatan kreatif anak nagari. Hal ini merupakan respons konkret terhadap program pengembangan NCH.
Sekretaris Dinas Kebudayaan Sumbar, Fadli Junaidi, menjelaskan kegiatan di Koto Tangah berlangsung selama dua hari. Agenda mencakup pameran koleksi Museum Adityawarman, workshop warisan budaya, dan pelatihan pasambahan kato.
Fadli optimistis pelibatan aktif generasi muda dalam ruang kreatif ini akan menjaga marwah tradisi Minangkabau. Ia berharap langkah ini membuka inovasi bagi pemuda desa untuk mengolah kearifan lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.






