Jakarta – Momen wisuda yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, justru menjadi sumber trauma bagi sebagian mahasiswa. Penyebutan nama orang tua, khususnya ayah, dalam prosesi wisuda dapat memicu luka lama bagi mereka yang memiliki pengalaman pahit.
Tradisi penyebutan nama orang tua saat wisuda, yang dianggap sebagai formalitas oleh pihak kampus, ternyata menyimpan potensi kekerasan simbolik.
Hal ini diungkapkan oleh Sisca Oktri Santi, seorang linguis, yang menyoroti bahwa bahasa tidak pernah netral dan membawa beban makna serta pengalaman.
Menurut Sisca, penyebutan nama ayah secara otomatis mereproduksi asumsi bahwa ayah selalu hadir dan menjadi pusat identitas anak. Padahal, realitas kehidupan mahasiswa sangat beragam.
“Tidak semua ayah hadir sebagai figur aman. Tidak semua ayah hadir sama sekali,” tegas Sisca.
Banyak mahasiswa yang tumbuh tanpa sosok ayah, ditinggalkan sejak lahir, atau mengalami kekerasan dari figur ayah. Bagi mereka, penyebutan nama ayah saat wisuda justru menjadi pengingkaran atas perjuangan ibu dan diri sendiri.
Sisca mencontohkan unggahan viral di Instagram dari akun @Iiiffyaa._m yang mengungkapkan betapa sakitnya wisuda dengan keluarga berantakan, apalagi jika nama ayah yang dipanggil padahal ibu yang berjuang.
“Kalimat ini merepresentasikan ribuan suara lain yang selama ini terdiam,” ujar Sisca.
Sisca menilai, kampus seharusnya memberikan pilihan kepada mahasiswa untuk menyebut nama ayah, ibu, atau keduanya, atau bahkan hanya nama mereka sendiri.
“Pilihan ini tidak mengurangi kehormatan wisuda. Justru menunjukkan kedewasaan institusi dalam menghargai keberagaman jalan hidup,” katanya.
Sisca juga menyoroti ironi bahwa sering kali ibu yang memikul seluruh beban kehidupan, namun namanya justru absen dari panggung simbolik wisuda.
“Inilah wajah patriarki simbolik yang masih dipertahankan dalam ritual akademik,” tegasnya.
Oleh karena itu, Sisca mendesak agar kampus, sekolah, Dinas Pendidikan, dan Dikti memerhatikan praktik simbolik yang selama ini dianggap sepele.
“Bahasa yang digunakan institusi pendidikan harus berpihak pada kemanusiaan, bukan sekadar melestarikan tradisi,” pungkasnya.





