Gubernur Sumbar: Kesiapsiagaan Bencana Harus Jadi Budaya, Bukan Seremonial

oleh -18 Dilihat
gubernur-mahyeldi:-kesiapsiagaan-bencana-harus-menjadi-budaya-masyarakat
Gubernur Mahyeldi: Kesiapsiagaan Bencana Harus Menjadi Budaya Masyarakat

Pariaman – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menekankan bahwa kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami harus tertanam dalam budaya masyarakat, bukan sekadar agenda seremonial.

Penegasan ini disampaikan Mahyeldi saat menghadiri Gladi Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami tingkat Provinsi Sumbar Tahun 2026 di Kota Pariaman, Rabu (30/9/2026).

Gladi yang meliputi Tabletop Exercise (TTX), Command Post Exercise (CPX), dan Field Training Exercise (FTX) dianggap sebagai momen krusial untuk menguji kesiapan pemerintah dan seluruh elemen terkait terhadap potensi bencana.

“Keberhasilan gladi ini diukur dari seberapa banyak pembelajaran yang dapat kita peroleh untuk memperkuat kesiapsiagaan kita di masa depan,” ujar Mahyeldi.

Mahyeldi menjelaskan, TTX menguji pemahaman skenario dan pengambilan keputusan, CPX menguji alur komando dan koordinasi, sementara FTX memastikan rencana operasional di lapangan.

Ia meminta seluruh hasil evaluasi dari ketiga tahapan tersebut didokumentasikan secara lengkap, termasuk kendala dan keterbatasan sumber daya.

“Jangan menunggu bencana datang untuk belajar berkoordinasi. Semua itu harus kita siapkan dari sekarang,” tegasnya.

Gubernur Sumbar juga menekankan pentingnya penguatan sistem komando dan koordinasi lintas instansi melalui SOP yang dipahami semua pihak.

Sistem komunikasi kedaruratan juga harus terus diuji dan diperkuat melalui sinergi antara BPBD, BMKG, Basarnas, TNI, Polri, dunia usaha, akademisi, organisasi kemanusiaan, dan relawan.

Mahyeldi menambahkan, hasil pembelajaran gladi harus disosialisasikan ke seluruh OPD dan masyarakat di tingkat kabupaten dan kota.

“Semakin banyak yang terlibat dan semakin sering dilaksanakan, semakin baik, sehingga proses internalisasi terhadap kebencanaan itu betul-betul menjadi sesuatu yang melekat dalam keseharian kita,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya kerja sama lintas daerah dalam membangun kesiapsiagaan, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak seperti konsumsi dan tempat pengungsian.

Sekretaris Utama BNPB, Rustian, mengapresiasi pengujian Rencana Kontinjensi (Renkon) gempa bumi dan tsunami oleh Pemprov Sumbar.

Rustian mengingatkan agar Renkon terus diperbarui dan diuji secara berkala, serta memastikan kesiapan jalur dan tempat evakuasi.

“Bencana ini kita tidak tahu kapan terjadinya, dan yang pasti akan terjadi. Karena itu kita tidak boleh takut, tetapi harus siap,” katanya.

Walikota Pariaman, Yota Balad, menyebut gladi ini penting untuk membangun ketangguhan masyarakat dalam mengurangi risiko bencana.

Ia mengajak masyarakat menjadikan gladi sebagai momentum memahami tindakan saat gempa dan tsunami terjadi dengan semangat “Siap untuk Selamat.”